Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 21 Oktober 2017 | 21:08 WIB

Revisi UU Perlindungan Konsumen Macet Sejak 2012

Oleh : - | Senin, 9 Oktober 2017 | 19:48 WIB
Revisi UU Perlindungan Konsumen Macet Sejak 2012
Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Ardiansyah Parman - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Ardiansyah Parman bilang, revisi UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen perlu disegerakan.

Menurutnya, revisi perlu dikebut demi memperkuat perlindungan konsumen.
"Memperbaiki UU bukan hanya terkait dengan penguatan kelembagaan, tetapi memang banyak yang harus diperbaiki," kata Ardiansyah di Jakarta, Senin (9/10/2017).

Ardiansyah mengatakan, pada 2012, BPKN telah menyampaikan usulan untuk revisi. Namun, hingga kini, usulan tersebut masih dalam pembahasan. Termasuk menyiapkan naskah akademis dari perubahan UU itu. "Program Legislasi Nasional diharapkan pada 2018," kata Ardiansyah.

Selain itu, lanjut Ardiansyah, perkembangan teknologi dan transaksi perdagangan menuntut adanya penataan ulang khususnya terkait dengan masalah perlindungan konsumen yang saat ini tersebar di berbagai sektor.

Transaksi yang dilakukan oleh pelaku usaha dan konsumen terus berkembang dan melibatkan banyak aspek pengatura. Diharapkan ke depannya harus mampu mewadahi perkembangan aplikasi internet seperti e-commerce, logistik barang dan jasa, isu keamanan dan kedaulatan jaringan serta data informasi dan lainnya.

Sementara, Ketua Komite Tetap Industri Pengolahan Makanan dan Protein Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Thomas Darmawan mengatakan hal senada. Bahwa UU Perlindungan Konsumen perlu direvisi. Slama ini, penegakan beleid tersebut banyak menghadapi kendala.

Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah seperti aspek gramatika, sistematika undang-undang, pegaturan tanggung jawab pelaku usaha, penyelesaian sengketa konsumen dan masalah kelembagaan. "Pelaksanaan dan penegakan UU Perlindungan Konsumen masih menghadapi berbagai kendala," kata Thomas.[tar]

Komentar

 
x