Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 22 Oktober 2017 | 02:35 WIB

Ekonom Faisal Basri Soroti Stagnasi Ekonomi RI

Oleh : Mohammad Fadil Djailani | Selasa, 10 Oktober 2017 | 14:13 WIB
Ekonom Faisal Basri Soroti Stagnasi Ekonomi RI
Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri - (Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya mampu tumbuh di kisaran 5% belum menggambarkan potensi sesungguhnya. Hal ini menjadi sorotan ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri. Seperti apa?


Faisal mengatakan saat ini indikator ekonomi Indonesia menunjukkan data yang cukup apik semisal inflasi yang berada di bawah 4%, terendah sejak krisis 1998. Suku bunga juga berangsur turun walaupun belum serendah yang diinginkan pemerintah.

Nilai tukar rupiah stabil dengan volatilitas terendah di Asia Tenggara bersama dengan ringgit Malaysia. Begitu juga dengan cadangan devisa meningkat hingga mencapai aras tertinggi sepanjang sejarah.

Pasar saham terus menunjukkan kenaikan indeks, di mana sudah 19 kali mencetak rekor baru sejak pertengahan Maret 2017.

Yang tak kalah penting nilai ekspor tumbuh dua digit, setelah lima tahun berturut-turut selalu merosot serta arus masuk penanaman modal asing yang cenderung meningkat.

Namun, menurut Faisal, dengan kondisi makro ekonomi seperti ini,pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun terakhir hanya mampu tumbuh tak jauh dari angka 5%.

Padahal, pada era 1960-an ekonomi Indonesia pernah mencatatkan pertumbuhan 12% dan juga pernah mencapai titik terendah, yaitu -13,1% saat krisis 1998.

"Dari rata-ratadouble digit, menjadi rata-rata 8%, lalu 7%, 6% dan akhirnya dalam empat tahun terakhir menjadi 5 persen," kata Faisal dalam keterangan tertulisnya kepada media di Jakarta, Selasa (10/10/2017).

Meski demikian, bukan tidak mungkinpertumbuhan ekonomiIndonesia bisa tumbuh lebih tinggi lagi. Syaratnya harus ada suntikan energi baru dengan kesiapan Indonesia memasuki era Industry 4.0, pengembangan digital economy dan melakukan reorientasi kebijakan.

"(Untuk) menjadi juara, asupan harus bermutu, kerja keras, disiplin, rajin latihan, dan bertanding," katanya. [jin]

Komentar

 
x