Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 14 Desember 2017 | 09:39 WIB

Perdagangan Satwa Liar Kian Marak di Media Online

Oleh : Mohammad Fadil Djailani | Jumat, 13 Oktober 2017 | 15:17 WIB
Perdagangan Satwa Liar Kian Marak di Media Online
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Maraknya perdagangan satwa liar dilindungi yang terjadi di Indonesia makin meresahkan. Para pelakunya makin hari makin pintar saja, tak terkecuali memanfaatkan perkembangan teknologi seperti media sosial atau online.

Yah saat ini para pelaku penjualan satwa liar lebih senang berjualan lewat online dengan berbagai macam cara seperti Facebook, Instagram dan website-website lantaran lebih sulit untuk dilacak oleh penegak hukum.

"Perdagangan satwa liar lewat online makin marak, kita tidak bisa bekerja sendiri, kita harus kerja bersama," kata Adi Pribadi perwakilan Direktur Pencegahan dan Pengamanan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian LHK di Jakarta, Jumat (13/10/2017).

Adi bilang saat ini penjualan satwa liar masuk 5 besar penjualan yang paling marak dan ilegal dilakukan di Indonesia, setelah narkoba, manusia dan senjata.

"Kita tidak ingin kasus Harimau Jawa yang punah terulang kembali, kita baru tahu bahwa Harimau Jawa itu obat HIV, tapi sekarang Harimau Jawa sudah tidak ada, itu sayang sekali," katanya.

Ditempat yang sama Irma Hermawati dari Wildlife Crime Unit/Wildlife Conservatory Society (WCU/WCS) menilai bahwa peredaran satwa liar berstatus langka saat ini sudah semakin tak terbendung. Karenanya, harus dicari cara bagaimana untuk menghentikan perdagangan satwa liar melalui sosial media.

"Sekarang ini satwa liar memang sudah semakin gawat. Sudah banyak yang menawarkan perdagangan satwa liar melalui sosial media. Ini harus dihentikan segera," kata Irma.

Menurut Irma, motif perdagangan melalui jaringan dalam jaringan (daring) tersebut rata-rata berujung pada keuntungan materi. Hampir semua transaksi perdagangan melalui daring dilakukan oleh para pedagang lama yang biasa berjualan satwa. Di antara mereka, terdapat para pedagang hewan di Pasar Pramuka, Jakarta Timur.

WCS mencatat, sepanjang 2016 terjadi transaksi perdagangan melalui daring sebanyak 49 kasus. Hampir sebagian besar dari transaksi tersebut dilakukan melalui pembayaran di muka (cash on delivery/COD), setelah melakukan pembicaraan di media sosial sebelumnya. [hid]

Tags

Komentar

 
x