Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 25 November 2017 | 09:12 WIB

Babak Baru Sengketa Tanah Wisata Gili Trawangan

Oleh : - | Selasa, 17 Oktober 2017 | 18:10 WIB
Babak Baru Sengketa Tanah Wisata Gili Trawangan
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Mataram - Kisruh sengketa lahan Gili Trawangan, obyek wisata penuh pesona di Nusa Tenggara Barat (NTB), memasuki babak baru.

Sidang kasus gugatan perdata sengketa lahan Gili Trawangan antara Prajadi Agus Winaktu melawan Adi Nugroho kembali digelar Pengadilan Negeri (PN) Mataram.

Di mana, Adi digugat karena dianggap tidak kunjung menyerahkan sebagian lahan yang dibeli melalui PT Sumber Sejahtera Lestari Lombok (PT SSLL), dari PT Wanawisata Alam Hayati (WAH) seluas 81.686 meter-persegi di Gili Trawangan. Dalam hal ini Adi menjadi tergugat I sementara PT SSLL sebagai tergugat II.

Dalam persidangan, tergugat I dan II menghadirkan dua orang saksi ahli, yakni Prof Muzakkir ahli hukum dari Universitas Islam Indonesia (UII) dan Prop Zainal Asikin dari Universitas Mataram (Unram).

Dalam kesaksian, Muzakkir mengatakan, gugatan tersebut merupakan melanjutkan gugatan pidana yang sudah dilakukan menjadi gugatan perdata. Intinya, dia bilang, bagaimana kedudukan putusan pidana yang sudah inkrah dalam konteks perkara perdata."Kalau perkara perdata tidak boleh berdiri sendiri. Karena ujungnya harus diawali oleh pidana. Maka putusan inkrah dari Mahkamah Agung menjadi dasar dari kebenaran dari penarikan kebenaran yang lain. Prinsipnya seperti itu, ujarnya.

Oleh karena itu, jika menggugat perdata. Isinya tidak boleh bertentangan dengan putusan pengadilan pidana yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkrah) dan sudah diuji melalui persidangan.

Kemudian terkait dengan pengembalian barang bukti yang menjadi objek dalam perkara ini. Akademisi senior dari Jogjakarta ini mengatakan, berdasarkan putuusan yang ada. Alat bukti berupa tanah dikembalikan kepada PT SSLL.

Pertimbangannya dalam bahasa pidana, karena penilaian hakim bahwa kepemilikannya atas PT SSLL berdasarkan dokumen yang diperiksa di persidangan pidana. "Sehingga kalau mau dikembalikan harus diperiksa dulu ini milik siapa. Buktinya mana kan harus seperti itu. Ketika sudah sertifikat berupa bukti formil begitu maka dia dikembaliakn kepada PT SSLL, ungkapnya.

Secara korporasi, PT SSLL membeli lahan tersebut dari PT WAH. Ia juga mengatakan, dalam konteks kepemilikan ini. tidak ada gugatan perorangan.
"Karena dokumen resminya sudah ada berarti tidak ada perorangan. Pertanyaannya, jika ada sengketa terkait dengan kontrak perorangan. Semestinya tidak ada objek terhadap kepemilikan PT SSLL itu,tegasnya. [tar]

Komentar

 
x