Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 11 Desember 2017 | 20:32 WIB

Bisnis tak Sehat AMDK Terus Digeber KPPU

Oleh : - | Kamis, 19 Oktober 2017 | 16:20 WIB
Bisnis tak Sehat AMDK Terus Digeber KPPU
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Upaya KPPU membuktikan dugaan persaingan tak sehat di bisnis air minum dalam kemasan (AMDK), terus berjalan. Mengarah adanya kompetisi yang tak sehat.

Dalam disang lanjutan, Senin (16/10/2017), KPPU menghadirkan Didin Sirodjudin, saksi dari pihak PT Tirta Investama. Langkah ini penting guna membongkar ada-tidaknya pelanggaran terhadap pasal 15 ayat 3 huruf b, serta pasal 19 huruf a dan b dari UU 5 Tahun 1999 tentang Anti Monopoli dan Persaingan Usaha.

Di mana, dugaan bisnis tak sehat mengarah kepada PT Tirta Investatama selaku produksen Aqua, serta PT Balina Agung Perkasa selaku distributornya. Dalam sidang, majelis hakim yang dipimpin R Kurnia Syaranie, menghadirkan saksi, Didin Sirodjudin yang menjabat Distribution And Relation Manager PT Tirta Investama.

Selanjutnya terkuak adanya komunikasi via imel yang dibuat saksi, terkait laporan dari Sulistiyo Pramono (Key Account Executive/KAE), serta informasi dari Erir. Pengakuan Didin sangat penting guna membuktikan dugaan penurunan status Toko Vanny alias Cuncun milik Yatim Agus Prasetyo dari Star Outlet (SO) menjadi Whole Seller (WS). Di mana, status toko ini membedakan harga beli barang (Aqua).

Didin mengatakan tidak memiliki kewenangan untuk menurunkan status toko dari SO ke WS. Namun, dalam surat elektronik memaparkan peran Didin dalam penurunan status Toko Vanny alias Cuncun. Di mana, Didin memforward imel dari Sulistyo kepada Lutfi, atasannya pada 17 Mei 2016. Namun, imel tersebut ditolak lantaran salah, bukan akun milik Lutfi.

Seminggu berselang, Didin mengirim ulang. Isinya, Toko Cuncun harus membeli produk dengan harga toko bersatus WS, bukan SO. Artinya, statusnya sudah diturunkan.

Sementara itu, Arnold Sihombing, Ketua Tim Investigasi KPPU bilang, Didin memiliki peran penting dalam penurunan status toko. "Saksi menindaklanjuti keinginan Sulistiyo Pramono dengan ikut melegitimasi keinginan degradasi(penurunan status)," kata dia.

Pihak PT Balina sebagai distributor, lanjutnya, semakin yakin harus ada degradasi. "Karena sudah terkonfirmasi oleh DRM Aqua yang menjadi atasan Sulistiyo," lanjut Arnold.

Arnold mencium adanya pengalihan persoalan ke permasalahan pribadi. Akan tetapi, Majelis Hakim KPPU tentunya bisa fokus terhadap pokok perkara.
"Bahwa ini bukan semata-mata kebijakan pribadi, namun telah diketahui jajaran TIV selaku produsen Aqua di level depo," lanjut Arnold.

Perkara ini mencuat lantaran adanya klausul perjanjian ritel yang dinilai tidak fair. Di mana, ritel yang menjual produk La Minerale diturunkan statusnya dari SO menjadi WS.

Mendengar hal ini, PT Tirta Fresindo Jaya, produsen La Minerale melayangkan somasi terbuka terhadap PT Tirta Investama di surat kabar pada 1 Oktober 2016. Somasi ini selanjutnya ditanggapi KPPU.

Kuasa hukum PT Tirta Investama, Rikrik Rizkiyana mengatakan tidak pernah ada penurunan status dari SO menjadi whole seller gara-gara pedagang menjual produk Le Minerale. [tar]

Komentar

 
x