Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 20 November 2017 | 01:00 WIB

Beri Kuliah Umum di Unimed

Bos BTN Ingatkan Soal Era Digitalisasi

Oleh : Iwan purwantono | Jumat, 27 Oktober 2017 | 16:38 WIB
Bos BTN Ingatkan Soal Era Digitalisasi
(Foto: Inilahcom/Dok)
facebook twitter

INILAHCOM, Medan - Di depan ribuan Mahasiswa Univesitas Negeri Medan (Unimed), Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Maryono, mengingatkan tantangan era digitalisasi, khususnya sektor perbankan.

Saat memberikan kuliah umum di Auditorium Kampus Unimed, Medan, Sumatera Utara, Jumat (27), Maryono memaparkan, para mahasiswa yang merupakan generasi millenial, harus siap menghadapi era digitalisasi. Saat ini, digitalisasi sudah merambah seluruh lini bisnis, termasuk perbankan.

"Sepuluh atau dua puluh tahun lalu, transaksi perbankan harus di bank. Kemudian berkembang kartu ATM. Dengan kartu, transaksi tarik rekening atau menabung tanpa harus ke kantor bank," kata Maryono.

"Sekarang sudah berkembang lebih canggih lagi, karena bisa dilayani melalui handphone (smartphones). Bisa diitegrasikan ke kartu transaksi non tunai, apakah e-money, e-toll dan lainnya. Jadi semuanya bisa semakin mudah dan cepat," papar Maryono.

Era digitalisasi, kata Maryono, bisa dianggap berkah bagi industri perbankaan. Lantaran, biaya operasional perbankan bisa lebih irit alias efisien.

Selain itu, Maryono menyebut program laku pandai yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menggejot akses perbankan masyarakat di pelosok, cukup efektif. Bank tak perlu punya kantor cabang hingga pelosok desa. Namun hanya perlu memiliki agen laku pandai saja.

"Agen laku pandai atau inklusi keuangan dari Bank BTN di desa, jumlahnya sekitar 6.220 orang. Jadi, warga pedesaan tidak perlu ke kota kalau ingin menabung atau mengajukan kredit," paparnya.

Sebagai bank yang fokus di pembiayaan perumahan, Maryono bilang, Bank BTN konsisten mendukung program Pembangunan Sejuta Rumah yang digariskan Presiden Joko Widodo. Dalam tiga tahun, Bank BTN membiayai berdirinya 1,4 juta unit rumah di seluruh Indonesia, senilai Rp155 triliun. Dalam setahun, Bank BTN mematok program Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) minimal 400 unit rumah.

Komitmen Bank BTN dalam mendukung program mulia ini, ternyata membawa berkah. Karena, aset perusahaan naik dua kali lipat dalam 3 tahun menjadi Rp232 triliun. Pada 2020, bank pelat merah ini berancang-ancang bisa melipatgandakan asetnya menjadi Rp750 triliun.

Ya, keinginan dan keyakinan Maryono bahwa Bank BTN menjadi raksasa di bisnis pembiayaan perumahan, sangat masuk akal. Saat ini, angka kekurangan perumahan di tanah air, atau backlog mencapai 1,4 juta unit.

Jumlah itu terus bertambah 400 ribu unit rumah per tahun. Jadi, perlu ada perbankan yang serius dalam mendukung bertumbuhnya industri perumahan, atau pengembang. Di sinilah, modal kuat bagi Bank BTN untuk lari cepat. "Kami ingin Bank BTN menjadi leader, seperti halnya BUMN lain yakni Telkom dan Pertamina," kata Maryono. [ipe]


Komentar

 
x