Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 25 November 2017 | 09:11 WIB

LPS: Bank Hindari NPL Malas Kucurkan Kredit

Oleh : M Fadil Djailani | Kamis, 2 November 2017 | 16:52 WIB
LPS: Bank Hindari NPL Malas Kucurkan Kredit
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menegaskan perbankan sangat malas menyaluran kredit. Dari data per Oktober, penyaluran kredit hanya sekitar 7,8% dari target 11% untuk tahun ini.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Halim Alamsyah mengatakan rendahnya penyaluran kredit perbankan dikarenakan perbankan lebih hoby menyimpan dana di Bank Indonesia (BI). Alasannya perbankan menghindari tingginya resiko kredit macet.

"Kalau diliat angka likuiditas BI itu terus naik dalam beberapa bulan terkahir, uang itu (perbankan) sementara ada di Indonesia," kata Halim di Kantornya, Kamis (2/11/2017).

Selain itu, Halim menambahkan saat ini industri perbankan masih tahap konsolidasi, melihat situasi ekonomi dalam negeri dan global. Tahun depan perbankan mengharapkan situasi ekonomi jauh lebih baik dan meningkatkan penyaluran kredit perbankan.

"Dengan berbagai kondisi global dan domestik yang secara fundamental kita harap permintaan kredit akan naik dalam beberapa tahun kedepan kita harap ada dampak kepertumbuhan ekonomi kita," katanya.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) Wimboh Santoso pesimistis pertumbuhan kredit pada tahun ini bakal mencapai target 11%, pasalnya hingga akhir Oktober 2017 ini pertumbuhan kredit hanya sebesar 7,8%.

"Bagaimana mencapai 11% (pertumbuhan kredit) di akhir tahun? keliahannya agak berat kami lihat tercapai sekitar 10%," kata Wimboh saat konfrensi pers Tim KSSK, di Kantor Ditjen Pajak, Selasa lalu (31/10/2017).

Wimboh menjelaskan lesunya pertumbuhan kredit ini diakibatkan karena bank-bank sedang melakukan konsolidasi dan restrukturisasi yang kategorinya komersial dalam bentuk modal kerja.

"Jumlahnya range Rp250 miliar hingga Rp900 miliar. Itu secara jumlah debitur relatifl cukup besar di beberapa bank karena debitur-debitur ini adalah yang kemarin lebih banyak berbisnis di bidang komoditi dan mining, komoditi ini kemarin harganya turun drastis jadi alami kesulitan cashflownya maka debitur ini sedang restrukturisas," kata Wimboh menjelaskan.

Padahal kata Wimboh pemerintah sempat merevisi target pertumbuhan kredit pada pertengahan tahun ini dari 13% ke 11%. "Pertumbuhan kredit, revisi bisnis plan pertengahan 2017 telah menurunkan target dari 13%, jadi 11%. Sampai hari ini 7,8%," katanya.

Meski mengalami perlambatan pertumbuhan pada tahun ini, mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini optimistis pertumbuhan kredit tahun depan akan lebih baik, mengingat kondisi ekonomi yang lebih cerah.

"Maka dari itu untuk kedepan kami harap akan lebih baik dari periode ini karena proses restrukturisasi ini kami harap sudah hampir selesai," katanya.

Komentar

 
x