Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 25 November 2017 | 09:12 WIB

BPS: Perekonomian Papua Belum Bagus-bagus Amat

Oleh : - | Selasa, 7 November 2017 | 13:50 WIB
BPS: Perekonomian Papua Belum Bagus-bagus Amat
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jayapura - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua membeberkan angka pertumbuhan ekonomi Papua di triwulan III-2017 tumbuh 3,40% ketimbang triwulan sama di 2016.

Kepala BPS Papua, Simon Sapari, menuturkan, realisasi pertumbuhan ekonomi Papua di triwulan III-2017, lebih lambat ketimbang triwulan sebelumnya sebesar 4,88%.

"Hal ini disebabkan melambatnya pertumbuhan produksi Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian yang merupakan kontributor terbesar perekonomian Papua," ujar Simon di Jayapura, Selasa (7/11/2017).

Ia menyebutkan, pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 8,14%. Dibayangi Informasi dan Komunikasi sebesar 6,92%, Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 6,77%.

Sementara, perekonomian Papua berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan III-2017, mencapai Rp51,39 triliun. Dan, atas dasar harga konstan 2010, mencapai Rp40,07 triliun.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Papua triwulan III-2017 (q-to-q), Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 17,32%, diikuti Konstruksi sebesar 0,72%, dan Perdagangan Besar-Eceran, Reparasi Mobil-Sepeda Motor sebesar 0,40%.

"Jika tanpa Pertambangan dan Penggalian, Ekonomi Papua triwulan III-2017 terhadap triwulan sebelumnya (q-to-q) tumbuh 3,37 persen, melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,96 persen," kata dia.

Menurut Simon, menurunnya Produksi Tanaman Pangan, terutama padi yang sudah melewati masa panen raya di triwulan lalu, dan pertumbuhan realisasi Belanja Pegawai yang melambat karena pada triwulan sebelumnya ada pembayaran gaji ke -14.

"Selain itu, perlambatan ini juga disebabkan adanya penurunan produksi beberapa Industri Pengolahan terutama Industri Kayu, serta menurunnya nilai tambah Jasa Perantara Keuangan," kata Simon. [tar]

Komentar

 
x