Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 25 November 2017 | 09:12 WIB

DPR: Asing Kuasai Bandara, Langgar UU Penerbangan

Oleh : - | Kamis, 9 November 2017 | 13:38 WIB
DPR: Asing Kuasai Bandara, Langgar UU Penerbangan
Wakil Ketua komisi V DPR, Sigit Sosiantomo - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Komisi V DPR mengkritik rencana pemerintah menawarkan pengoperasian sejumlah bandara kepada asing. Keterlibatan asing dalam pengoperasian bandara berpotensi melanggar UU Penerbangan.

Wakil Ketua komisi V DPR, Sigit Sosiantomo bilang, pemerintah jangan bertindak sembrono dengan menawarkan pengelolaan bandara kepada asing. Karena, bandara itu aset vital dan hanya boleh dikelola oleh BUMN, BUMD atau badan hukum Indonesia. "Keterlibatan asing dalam pengoperasian bandara berpotensi melanggar UU," kata Sigit dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (9/11/2017).

Ia menjelaskan, sesuai dengan pasal 1 ayat (43) UU No.1 tahun 2009 tentang Penerbangan, Badan Usaha Bandar Udara adalah badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, atau badan hukum Indonesia berbentuk perseroan terbatas atau koperasi. Di mana, kegiatan utamanya mengoperasikan bandar udara untuk pelayanan umum.

Selain itu, Pasal 237 UU Penerbangan menegaskan bahwa pengusahaan bandar udara yang dilakukan oleh badan usaha bandar udara, seluruh atau sebagian besar modalnya harus dimiliki oleh badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia.

Selain berpotensi melanggar UU, keterlibatan asing dalam pengelolaan bandara juga dikhawatirkan akan berdampak pada penyelenggaraan fungsi pemerintahan di bandara.

Sesuai dengan Pasal 195, Sigit menjelaskan, Bandar udara berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dan pengusahaan. Kegiatan pemerintahan di Bandara selain pembinaan kegiatan penerbangan, juga ada kepabeanan, keimigrasian dan kekarantinaan.

"Bisa dibayangkan kalau pengelolaan bandara dilakukan oleh asing, kami khawatir fungsi pemerintahan di bandara bisa terganggu," imbuhnya.

Di sisi lain, bandara yang ditawarkan kepada pihak asing adalah bandara yang potensial dan sudah membukukan keuntungan.

"Aneh saja kalau bandara sebesar Kualanamu dan Lombok yang ditawarkan kepada Selandia baru. Ini kan bandara yang potensial dan sudah menguntungkan. Mengapa pengelolaannya harus diserahkan ke asing. Apalagi alasannya sharing invesment experience. Aneh sekali. Seharusnya kita justru mendorong kemandirian bangsa," papar Sigit.

Sekedar mengingatkan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, menawarkan, pengoperasian Bandara Internasional Lombok dan Bandara Internasional Kualanamu ke pemerintah Selandia Baru.

Pemerintah beralasan Bandara Lombok ditawarkan karena lokasi cukup dekat dengan Selandia Baru dinilai potensial karena didukung dengan sektor pariwisata di mana banyak dilalui wisatawan. Sementara Bandara Kualanamu karena merupakan bandara komersial yang sudah membukukan keuntungan. [tar]


Komentar

 
x