Jumat, 24 Oktober 2014 | 16:33 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Seiring Pemberlakuan SNI
Industri Helm 2010 Kian Aman
Headline
otomotifnet.com
Oleh: Ari Purwanto
ekonomi - Sabtu, 26 Desember 2009 | 10:09 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Permintaan Helm SNI (Standar Nasional Indonesia) di 2010 diprediksi meningkat. Di pulau Jawa diperkirakan naik 10-15 %, sementara luar Jawa 15-20% dari rata-rata produksi saat ini yang mencapai 3,3 juta unit per bulan.
Demikian disampaikan John Manaf, Ketua Asosiasi Industri Helm Nasional ketika dihubungi oleh INILAH.COM, Kamis (24/12). Sosialisasi yang dilakukan pemerintah, Depperin, Depdag, Polri, Departemen Perhubungan, serta Pemda berhasil membuat masyarakat mengerti bahwa helm SNI adalah kebutuhan yang harus dipenuhi dalam berkendara, ujarnya.
Alhasil, permintaan helm yang lebih aman berstandar internasional ini terus mengalami lonjakan. Ia mengakui harga helm SNI lebih mahal dibandingkan helm biasa. Namun hal itu tidak membuat permintaan helm lesu.
Perbedaan harganya sangat kecil, tergantung ukuran dan bahan dasar. Kalau ukuran M dan half face perbedaan berkisar Rp20-30 ribu. Sedangkan ukuran L atau XL dan berbentuk full face beda harganya sekitar Rp100 ribu. Kualitas lebih diperhitungkan, lagipula harganya beda sedikit, lanjutnya.
Sub Direktur Standarisasi dan Teknologi Depperin, Kurnia Hanafiah menjelaskan keyakinannya terhadap industri helm nasional. Ia optimistis pertumbuhan helm nasional bisa mencapai 20%. Ini sangat mungkin terjadi karena perkembangan industri helm mengikuti perkembangan industri kendaraan roda dua.
Lihat saja pertumbuhan motor, otomatis permintaan helm akan terus meningkat. Katakanlah 1 motor butuh 2 helm SNI, belum lagi dengan anak muda yang setiap beberapa bulan ganti helm. Maka bisa dibayangkan pertumbuhannya, papar Kurnia.
Ia juga menjelaskan bahwa pasar ekspor helm juga terus mengalami peningkatan. Nilai ekspor mengalami kenaikan 10% dari 2008 sebesar 7,909 juta unit. Untuk impor 2009 turun 20% dari 2008 sebesar 6,907 juta. Sementara tahun depan ekspor helm diperkirakan meningkat 20% dan impor diprediksikan turun 20%. Sementara pertumbuhan produksinya mencapai 10-20%.
Daerah tujuan ekspor helm produk Indonesia meliputi Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada. Sementara negara pengimpor helm nasional terbesar adalah China. Impor helm dari China pada 2008, sudah mencapai US$5,5 juta dari total impor US$7 juta. Angka impor itu naik 10% dari 2007 yang hanya sekitar US$5 juta.
Jika wajib SNI sesuai Permenperin No. 40 tahun 2008 diberlakukan, produksi helm nasional bakal meningkat signifikan. Peraturan tersebut mulai berlaku efektif pada 1 April 2010, ditunda dari sebelumnya 25 Maret 2009.
Dirjen Industri Agro dan Kimia, Benny Wachyudi menjelaskan, selain alasan keselamatan pengendara, SNI juga akan berfungsi sebagai non barrier tarif yang akan melindungi produsen helm lokal dari serbuan helm impor yang bermutu rendah namun laku karena harganya lebih murah.
Penerapan SNI 1811/2007 (Standar Nasional Indonesia) bertujuan untuk melindungi produsen helm dalam negeri dari serbuan helm impor yang tidak memenuhi persyaratan SNI, paparnya.
Produksi helm nasional akan naik, karena produk impor pun yang selama ini masuk dengan kualitas rendah, harus ikut SNI. Penundaan implementasi SNI Wajib bagi helm dilakukan untuk memberikan waktu bagi industri nasional terutama skala menengah agar mampu memproduksi helm sesuai SNI.
Selain itu, memberikan kesempatan kepada distributor dan importir helm agar tidak lagi menjual helm tidak sesuai SNI. "Setelah April 2010, helm tanpa SNI akan ditarik dari peredaran dan dilarang beredar lagi," ujar Benny.
Dari data Depperin sudah ada 13 industri helm nasional dan 52 perajin mengikuti SNI. Pengrajin tersebut tergabung dalam Asosiasi Industri Helm Indonesia (AIHI) meliputi tujuh perusahaan dan Perhimpunan Perajin Helm Indonesia (PPHI) sebanyak 52 unit. Selain itu, masih ada delapan produsen lain yang belum tergabung dalam asosiasi.
Sementara itu, produksi 13 industri helm nasional mencapai 2,2 juta unit per bulan. Sedangkan produksi 52 pengrajin, mencapai 1,1 juta unit helm per bulan dengan jumlah karyawan 2.255 orang.
Meskipun prediksi pertumbuhan helm nasional sangat menjanjikan, masih ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam mendukung pertumbuhan helm nasional. Direktur Kimia Hilir Ditjen Industri Agro dan Kimia Depperin Tony Tanduk menuturkan, penurunan ekspor dan pertumbuhan helm nasional bisa terjadi karena beberapa hal.
Antara lain karena kelesuan ekonomi dunia sebagai akibat dampak krisis global. Meskipun kondisi ekonomi sekarang sudah cukup membaik, namun bayang-bayang krisis masih membekas dan bukan tidak mungkin akan menjadi penghambat terjadinya kelesuan pertumbuhan. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER