Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 20 November 2017 | 01:00 WIB

Iklim Ekonomi Global Ifo Gapai Rekor 6 Tahun

Oleh : - | Selasa, 14 November 2017 | 11:38 WIB
Iklim Ekonomi Global Ifo Gapai Rekor 6 Tahun
Ifo Institute for Economic Research - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Berlin - Para ahli ekonomi yakin dengan prospek pertumbuhan ekonomi global, sebuah studi dari sebuah lembaga penelitian terkemuka Ifo Institute for Economic Research mengatakan pada Senin (13/11/2017).

Lembaga riset yang berbasis di Munich, Jerman, menyatakan Indikator Iklim Ekonomi Global meningkat sebesar 3,9 poin menjadi 17,1 poin pada kuartal keempat 2017 (Q4), tingkat tertinggi sejak 2011.

"Pemulihan ekonomi global secara bertahap tampaknya mendapatkan daya penarik (traksi)," kata presiden Ifo, Clemens Fuest, dalam pernyataannya.

Lebih jauh diprediksi bahwa nilai tukar dolar AS terhadap mata uang lainnya akan terus menguat, sementara inflasi meningkat di seluruh dunia.

Berdasarkan data survei dari 1.171 ahli ekonomi di 120 negara, Ifo memperkirakan semua wilayah-wilayah global, kecuali Timur Tengah dan Afrika, mengalami pertumbuhan yang lebih cepat. Sentimen ekonomi di negara-negara berkembang seperti Amerika Latin sangat optimis.

Meskipun demikian, studi Ifo lain baru-baru ini memperingatkan bahwa kebijakan yang diadopsi oleh presiden AS Donald Trump masih dapat membahayakan pertumbuhan global. Sebanyak 73,9 persen ahli yang ditanyai dalam survei sebelumnya mengatakan bahwa Trump "secara negatif mempengaruhi ekonomi dunia".

Berbicara kepada kantor berita Xinhua pada Senin (13/11), Cora Jungbluth, pakar ekonomi di Bertelsmann Foundation, menekankan bahwa perdagangan bebas dan pasar terbuka merupakan "sumber penting pertumbuhan global."

Langkah-langkah proteksionis unilateral seperti yang dipromosikan oleh Presiden AS Donald Trump membahayakan perdagangan bebas, yang dapat memicu tindakan pembalasan oleh mitra dagang dan dengan demikian dapat menyebabkan lingkaran setan proteksionisme.

Hasilnya akan mengurangi pertumbuhan dan kemakmuran di semua negara yang terlibat dalam jangka panjang, termasuk yang memulai tindakan di tempat pertama," tambah Jungbluth. [tar]

Komentar

 
Embed Widget

x