Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 14 Desember 2017 | 16:48 WIB

Menunggu Paparan Ekonomi Jokowi di Salihara

Oleh : - | Rabu, 15 November 2017 | 12:30 WIB
Menunggu Paparan Ekonomi Jokowi di Salihara
Presiden Joko Widodo - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Data ekonomi makro Indonesia di kuartal III-2017 membangkitkan optimisme ekonomi nasional. Potensi sumber daya nasional dapat menjadi energi positif bagi perekonomian nasional.

Dalam acara "Bincang-Bincang Ekonomi Indonesia" yang akan digelar Jumat (17/11/2017) di Teater Salihara, Jakarta, Presiden Joko Widodo diagendakan akan menyampaikan pandangan ekonomi nasional, lengkap dengan potensi di dalam negeri.

"Pak Presiden diagendakan hadir dalam bincang-bincang ekonomi Indonesia," kata Pemimpin Perusahaan Warta Ekonomi sekaligus Ketua Panitia Pelaksana, Bram S Putro di Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Selain Jokowi, sejumlah pengambil kebijakan dan praktisi ekonomi dan bisnis, bakal hadir untuk membedah ekonomi bisnis terkini. Serta proyeksi ekonomi di masa mendatang. Adapun pejabat yang bakal hadir, Menteri BUMN Rini Soemarno, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani, dan Prof Firmanzah selaku rektor Universitas Paramadina.

Acara ini dipandu Pimred Warta Ekonomi, Muhamad Ihsan bertajuk Optimalisasi Potensi Dalam Negeri, diharapkan bisa menginspirasi adanya langkah bersama dalaa memandang ekonomi Indonesia dalam bingkai optimistis.

Saat ini, perekonomian nasional terus bergulir menuju kadar kualitas membaik. Sehingga perlu terus dijaga dengan menumbuhkaan optimisme dalam jangka panjang.

"Kita harus berbangga melihat peringkat Ease of Doing Business Indonesia mengalami perbaikan. Peringkatnya naik dari 91 menjadi 72. Ekonomi Indonesia harus terus ditingkatkan. Kita memiliki sumber daya yang harus terus dioptimalkan untuk mencapai pertumbuhan dan pemerataan ekonomi," kata Founder Warta Ekonomi, Fadel Muhammad.

Menurut Fadel, data BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 5,06% pada triwulan III-2017 bila dibandingkan triwulan III-2016 (yoy). Ini menjadi kabar baik untuk Indonesia.

Selain itu, indikator industri khususnya manufaktur, yang notabene bisa memberikan multiplier effect secara meluas, mengalami pertumbuhan yang bagus. Industri manufaktur besar dan sedang tumbuh 5,51% pada kuartal III-2017. Pertumbuhan tersebut adalah pertumbuhan tertinggi sejak 2015.

Fadel melihat, kerja pemerintah dalam melakukan pengendalian inflasi, berjalan sesuai ekspektasi. Angka inflasi pada Oktober 2017 sebesar 0,01%, dan 2,67% secara year to date. Harapannya sampai dengan tutup tahun inflasi masih terkendali sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Berdasarkan data yang dirilis OJK, penyaluran kredit menunjukkan peningkatan dan rata-rata suku bunga kredit perbankan mengalami penurunan sampai dengan September 2017.

Fadel melihat rata-rata suku bunga kredit yang turun menjadi 11,61% pada September 2017, memberikan dampak yang bagus bagi dunia usaha. Dampaknya penyerapan kredit juga akan meningkat dan menggerakkan dunia usaha. Sampai dengan September 2017, kredit perbankan sudah mengalami pertumbuhan sebesar 7,86% (yoy).

Perbankan telah menyalurkan kredit sebesar Rp4.543,6 triliun sampai dengan September 2017. Harapannya, dampak pertumbuhan tersebut tidak hanya pada dunia usaha saja, tapi daya beli masyarakat juga ikut terdorong.

"Tahun ini memang tahun yang penuh dengan tantangan. Namun semua akan dapat dilewati dengan pencapaian yang optimal bila antara pemerintah, pebisnis, dan masyarakat solid," papar mantan menteri kelautan dan perikanan era SBY ini. [tar]

Komentar

 
Embed Widget

x