Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 13:33 WIB

Enggar Siap Lobi AS Terkait Mahalnya BM Biodiesel

Oleh : - | Senin, 20 November 2017 | 11:30 WIB
Enggar Siap Lobi AS Terkait Mahalnya BM Biodiesel
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah memperjuangkan pembebasan bea masuk imbalan (countervailing duty) atas produk biodiesel ke Amerika Serikat (AS).

Langkah ini terkait keputusan Departemen Perdagangan AS (USDOC) menetapkan bea masuk imbalan sebesar 34,45-64,73%. Pada 9 November lalu, USDOC mengumumkan putusan final bea masuk imbalan produk biodiesel impor dari Indonesia dan Argentina. Bea masuk imbalan antara 34,45-64,73% untuk Indonesia, dan Argentina sebesar 71,45-72,28%.

Dalam keterangan tertulis, Jakarta, Minggu (19/11/2017), Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan niat akan melobi pemerintah AS. Bahwa, putusan USDOC terlalu overprotektif.

Kata Enggar, sapaan akrabnya, Indonesia tidak akan segan mengajukan gugatan melalui mahkamah AS maupun melalui jalur Dispute Settlement Body (DSB) WTO. "Pemerintah Indonesia meminta Pemerintah AS untuk mempertimbangkan kembali putusan ini dan menghargai hubungan baik kedua negara dalam semangat perdagangan bebas dan adil," kata Enggar.

Putusan final Bea Masuk Imbalan untuk Indonesia tersebut lebih rendah dari putusan sementara USDOC yang dikeluarkan pada Agustus 2017 yang berkisar antara 41,06-68,28%.

Menanggapi perkembangan tersebut, pemerintah Indonesia tetap menganggap putusan USDOC merupakan putusan yang sewenang-wenang dan overprotektif. Pemerintah Indonesia berketetapan memperjuangkan dibebaskannya Indonesia dari tuduhan subsidi.

Saat ini United States International Trade Commission (USITC) sedang menyelidiki ada atau tidaknya kerugian di industri dalam negeri AS akibat biodiesel impor.

Jika USITC memutuskan terdapat kerugian, maka USDOC akan menginstruksikan Customs and Border Protection AS untuk meneruskan pemungutan deposit dana sesuai dengan tingkat bea masuk yang ditetapkan. Namun bila USITC menyatakan bahwa tidak terdapat kerugian karena biodiesel impor, maka investigasi harus dihentikan.

Enggar menambahkan, apabila dalam putusan akhir nantinya terbukti bahwa putusan maupun metodologi penghitungan yang digunakan Amerika tidak konsisten dengan aturan WTO-Subsidy and Countervailing Measures Agreement, maka pemerintah akan melakukan evaluasi.

"Pemerintah Indonesia akan mempertimbangkan untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap seluruh impor Indonesia yang berasal dari Amerika Serikat," ujar Enggar.

Tercatat, pada 2016, ekspor biodiesel Indonesia ke negeri Uncle Sam mencapai US$255,56 juta. Nilai tersebut menyumbang 89,19% dari total ekspor biodiesel Indonesia ke seluruh dunia. Namun, karena adanya tuduhan ini pada 2017, ekspor biodiesel Indonesia ke AS, terhenti. [tar]

Komentar

 
x