Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 24 Januari 2018 | 12:49 WIB
 

Daya Beli Terjun Bebas Bikin Properti Sempoyongan

Oleh : - | Selasa, 21 November 2017 | 13:38 WIB
Daya Beli Terjun Bebas Bikin Properti Sempoyongan
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Semarang - Penjualan properti dalam gelaran Semarang Property Expo ke-9 anjlok. Naga-naganya, daya beli konsumen benar-benar melemah.

"Penjualan properti masih belum bagus. Hanya terjual 20 unit," kata Ketua Panitia Semarang Property Expo Dibya K Hidayat di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (21/11/2017).

Hal itu diungkapkan Dibya saat mengevaluasi gelaran pameran properti tahunan yang sudah berlangsung sembilan kalinya, jadwalnya 10 kali pameran.

Dalam pameran Semarang Properti #9 ini, pesertanya 13, berlangsung pada 8-19 November 2017 di Mal Paragon, Semarang.

Kata Dibya yang juga Direktur PT Kini Jaya Indah itu, pelemahan daya beli terhadap properti, sudah terasa sejak pertengahan penyelenggaraan pameran.

"Mulai gelaran Semarang Property Expo 5 dan 6, memang sudah terlihat menurun. Namun, tidak serendah tahun ini," kata Dibya.

Sebagai gambaran, pada Semarang Property Expo 5, mampu terjual 64 unit rumah. Selanjutnya dalam Semarang Property Expo 6 terjual 56 unit rumah. Tahun ini, hanya terjual 29 unit rumah.

Ia memprediksi anjloknya penjualan properti pada pameran kesembilan itu karena pasar properti yang dijual kelas menengah ke atas dengan kisaran harga di atas Rp1 miliar/unit.

Seperti pameran-pameran sebelumnya, ia menargetkan bisa menyentuh penjualan hingga 70 unit pada pameran yang kesembilan meski realisasinya ternyata meleset jauh dari target.

Dibya menjelaskan pangsa pasar properti yang masih cukup "tebal" sekarang ini memang di kategori menengah atau dibawah sedikit dari kelas atas dengan rentang harga Rp300-700 juta/unit.

Akan tetapi, ia juga tidak yakin pangsa menengah juga naik karena dalam gelaran pameran sebelumnya juga mencatat penjualan yang tidak begitu menggembirakan.

"Sebabnya apa, terus terang kami belum tahu. Persoalannya, suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) masih stabil, dukungan perbankan juga mudah. Tetapi, masih saja rendah daya beli properti," katanya.

Disebutkannya, lesunya penjualan properti memang baru terjadi tahun ini, sebab sejak 2014 hingga 2016 masih tinggi daya belinya, sementara periode 2017 mulai dirasakan tidak bertumbuh, bahkan cenderung turun.

"Ada 'something wrong' dalam perekonomian yang menyebabkan sektor bisnis, khususnya ritel terkena imbasnya. Masih kami cari tahu. Kalau kami tahu penyebabnya, mudah mengatasinya," katanya.

Persoalannya, kata dia, sekarang ini berbagai indikator bagus, kata dia, seperti suku bunga bank yang masih stabil sehingga semestinya meningkatkan penjualan properti.

"Bisa juga karena pengaruh situasi politik. Sebab. perekonomian kan juga akan terpengaruh secara makro dan bisa juga merembet terus," katanya.

Maka dari itu, Dibya tidak terlalu optimistis bisa mencapai target pada penyelenggaraan pameran kesepuluh yang menjadi pamungkas Semarang Property Expo 2017. "Sampai penyelenggaraan pameran kesembilan ini penjualan kurang lebih baru tercapai 80 persen dari keseluruhan target sepuluh kali pameran," katanya. [tar]

Komentar

 
x