Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 13:19 WIB

PE Stagnan 5%, Menkeunya SBY Ingatkan Bahaya

Oleh : - | Rabu, 22 November 2017 | 04:29 WIB
PE Stagnan 5%, Menkeunya SBY Ingatkan Bahaya
Mantan Menteri Keuangan era SBY, Chatib Basri - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ekonom yang juga mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, mengingatkan, perekonomian Indonesia tak cukup ditopang dengan angka pertumbuhan stagnan di kisaran 5%.

Alasan Chatib, akan menimbulkan beban fiskal, setelah berkurangnya produktivitas masyarakat dan masih rendahnya pendapatan per kapita.

Basri dalam sebuah paparan ekonomi di Jakarta, Selasa (21/11/2017), mengatakan, gejala stagnasi pertumbuhan ekonomi 5% bisa menimbulkan fenomena "tua sebelum kaya".

Fenomena itu menggambarkan beban anggaran negara yang bertambah, karena populasi penduduk dengan usia yang tak lagi produktif, lebih banyak dibanding penduduk usia produktif.

Dia memperkirakan, fenomena itu bisa terjadi di 2050, ketika negara harus mengucurkan anggaran untuk jaminan kesehatan bagi membludaknya penduduk usia tua. Anggaran itu tentunya harus dibiayai dengan penerimaan negara yang memadai.

"Kalau tua sebelum kaya, beban negara dengan aging population yang sudah berhenti kerja jadi enggak bayar pajak dan masih hidup, butuh kesehatan dari BPJS Kesehatan. Harus ada beban fiskal yang besar," kata dia.

Pengajar di Univeristas Indonesia (UI) itu, menyebutkan, fenomena serupa berpotensi terjadi di Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Bedanya, di negara itu punya modal memadai karena pendapatan penduduknya mencapai US$40.000 perkapita.

Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata 5%, maka pada 2050 pendapatan perkapita Indonesia hanya di kisaran US$20.000.

Sementara, jumlah penduduknya sangat banyak; saat ini ada di urutan keempat dunia setelah China, India, Amerika Serikat. "Bedanya ketika masuk aging population income per kapitanya 40.000 dolar AS. Indonesia di 2050 kalau lima persen pertumbuhannya baru 20.000 dolar Amerika Serikat. Ini supaya pertumbuhannya dipercepat," kata Chatib.

Pada 2016, lanjut Chatib, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,02%. Pada 2017, target pertumbuhan ekonomi ditetapkan 5,2%. Secara umum, yang bisa turut menyumbang angka pertumbuhan ekonomi itu adalah konsumsi dalam negeri, dan belanja modal serta pembangunan pemerintah.

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan, Indonesia memang perlu memompa pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat.

Salah satu cara untuk memompa pertumbuhan itu, menurut Sri Mulyani, adalah dengan investasi di sektor SDM dengan meningkatkan kualitas bidang pendidikan dan kesehatan. "Ini investasi yang besar untuk peningkatan kualitas hidup," ujar Sri Mulyani. [tar]

Komentar

 
Embed Widget

x