Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 13:07 WIB

Jokowi Sempat Heran Ekonomi Syariah Tak Maju-maju

Oleh : - | Rabu, 22 November 2017 | 16:10 WIB
Jokowi Sempat Heran Ekonomi Syariah Tak Maju-maju
(Dari Kiri ke Kanan). Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, Ketua BPH Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Muliaman D Hadad dan PU Warta Kota Bram S Putro. - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ternyata, Presiden Joko Widodo sempat heran kenapa perbankan syariah lesu. Padahal, jumlah muslim di tanah air, terbesar di dunia. Jadi wajar bila kini, Jokowi serius menggarap sektor ini

Pernyataan tersebut disampaikan mantan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad dalam seminar ekonomi syariah yang diselenggarakan portal berita wartaekonomi.co.id bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Rabu (22/11/2017).

"Pak Presiden Joko Widodo sempat bertanya kepada saya. Penduduk Muslim di Indonesia yang terbesar di dunia, mengapa ekonomi syariah belum berkembang. Saya belum sempat menjawab pertanyaan itu," papar Muliaman yang saat ini menjabat Ketua BPH Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

Menurut Muliaman, dukungan pemerintahan Joko Widodo dalam menumbuhkembangkan ekonomi syariah di tanah air, bukan sekedar janji namun kongrit. Khusus sektor keuangan, pemerintah telah membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KSKN).

"Hanya saja, kita perlu fokus. Indonesia ingin membesarkan Islamic Economic sektor apa? Misalnya, Indonesia lebih tepat fokus menjadi finansial center of syariah. Ini menyangkut besarnya jumlah penduduk Muslim, besar pula transaksi ekonomi yang terjadi," kata Muliaman yang pernah menjabat Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Sementara Perry Warjiyo, Deputi Gubernur BI, mengatakan, ada empat alasan kenapa Indonesia wajib mengembangkan perekonomian syariah. Pertama, Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar sehingga transaksi ekonominya juga besar. "Untuk belanja makanan halal saja, Indonesia terbesar di dunia. Untuk pengeluaran halal food. Largest expenditure consumer halal food US$1,2 triliun di 2015. Diproyeksikan naik menjadi US$2 triliun di 2021. Itu baru makanan, belum produk fesyen, obat-obatan, travel dan lain-lain," ujar Perry.

Kedua, lanjut Perry, mesju jumlah Muslim di Indonesia adalah yang terbesar, namun posisinya hanyalah sebagai konsumen. Sementara pelaku bisnis yang menikmati keuntungan adalah negara lain.

"Thailand mulai mengembangkan produk bumbu halal, Malaysia sektor keuangan, Jepang kembangkan industri halal, Australia kembangkan daging halal, Cina kembangkan fesyen. Tentunya hal ini bikin miris kita," ungkap Perry.

Ketiga, kata Perry, majunya sektor ekonomi syariah bisa menopang kesejahteraan rakyat. Selain itu mampu mendorong laju perekonomian nasional. "Kenapa perekonomian kita hanya 5% karena perekonomian syariah belum digarap secara maksimal," tuturnya.

Terakhir, kata Perry, perekonomian syariah di tanah air sangat tepat menyasar sektor industri keuangan. Saat ini, perbankan syariah di tanah air mulai tumbuh, sehingga layak untuk terus didorong. Agar, industri keuangan syariah di Indonesia bisa menyaingi negara lain.

Sementara Bram S Putro, Pemimpin Perusahaan Warta Ekonomi mengatakan, populasi Muslim di tanah air sebesar 88% dari total jumlah penduduk, menjadi modal kuat bagi tumbuh suburnya perekonomian syariah. Hal ini disokong penetapan DKI Jakarta sebagai Pusat Ekonomi dan Keuangan Syariah Dunia. Artinya, ekonomi syariah di Indonesia bakal menjadi magnet yang sangat kuat di mata dunia.

"Hal ini tentunya akan memberikan dampak yang positif kepada perekonomian nasional. Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah secara nasional diharapkan dapat meningkatkan daya tahan ekonomi (resilience) terhadap gangguan baik internal maupun eksternal," kata Bram. [tar]

Komentar

 
Embed Widget

x