Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 13 Desember 2017 | 18:22 WIB

Di Depan Mahasiswa UMM

Airlangga Sebut RI Masuk Kategori Negara Industri

Oleh : M Fadil Djailani | Sabtu, 25 November 2017 | 17:48 WIB
Airlangga Sebut RI Masuk Kategori Negara Industri
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berpandangan bahwa Indonesia dalam proporsi ekonominya dapat dikategorikan sebagai sebuah negara industri.

Pasalnya, sektor industri merupakan kontributor terbesar bagi perekonomian nasional dengan sumbangannya mencapai lebih dari 20%. "Capaian 20% sangatlah besar, sehingga Indonesia masuk dalam jajaran elit dunia. Dalam kategori manufacturing value added, Indonesia masuk dalam 10 besar dunia. Peringkat ini sejajar dengan Brasil dan Inggris serta lebih besar dari Rusia," kata Airlangga ketika menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-86 Periode IV Tahun 2017 di Malang, Jawa Timur, dalam keterangan pers, Sabtu (25/11/2017).

Sementara itu, berdasarkan jumlah persentase tersebut, Indonesia masuk dalam jajaran lima besar negara-negara dunia yang kontribusi industrinya cukup tinggi. Misalnya, Inggris menyumbangkan sekitar 10%, Jepang dan Meksiko di bawah Indonesia dengan kontribusi 19%. "Bahkan, kita juga berada di atas Amerika Serikat," imbuhnya.

Menurut Airlangga, dunia saat ini sudah memandang bahwa manufaktur adalah sektor yang vital bagi perekonomian. Hal ini telah disepakati dalam World Economic Forum, yang menyatakan bahwa industri adalah sebuah proses yang melibatkan pra-proses dan post-proses sebagai satu kesatuan. Dalam bahasa sederhanya, proses industri adalah yang terjadi di dalam dan luar pabrik.

"Keduanya tidak dapat dipisahkan. Maka dengan paradigma baru ini kontribusi industri Indonesia dapat mencapai lebih dari 30%. Tentu ini semakin menegaskan pentingnya industri bagi perekonomian nasional," tegasnya.

Lebih lanjut, Airlangga menyampaikan, kinerja industri kembali di atas pertumbuhan ekonomi pada triwulan III tahun 2017. Ini merupakan momentum baik, yang harus dijaga bahkan perlu ditingkatkan lagi, seiring upaya pemerintah menciptakan iklim investasi yang kondusif dan kemudahan berusaha. Langkah ini perlu dijalankan secara sinergi di antara pemangku kepentingan.

Merujuk data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan industri non-migas tumbuh sebesar 5,49%, atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,06% di triwulan III-2017. Cabang industri yang mengalami pertumbuhan tinggi adalah industri logam dasar sebesar 10,6%, diikuti industri makanan dan minuman (mamin) 9,49%, industri mesin dan perlengkapan 6,35%, serta industri alat transportasi 5,63%.

Airlangga menambahkan, dalam kurun lima sampai 10 tahun, potensi industri juga diandalkan oleh negara-negara lain. Untuk itu, kunci sukses dalam industrialisasi terdapat tiga faktor utama, yaitu sumber daya manusia (SDM), modal atau investasi, dan teknologi.

"Peningkatan kompetensi SDM melalui pendidikan vokasi merupakan program prioritas pemerintah saat ini setelah pembangunan infrastruktur. Penyiapan SDM terampil bertujuan untuk membentuk dan menghasilkan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan industri atau demand driven," paparnya.

Oleh karenanya, Menperin mengimbau kepada para lulusan UMM sebagai generasi muda Indonesia, harus memacu kompetensinya dengan fasih berbahasa Inggris serta mampu memahami mengenai statistik dan coding. Ini menjadi salah satu prasyarat menghadapi era ekonomi digital.

"Nilai bisnis industri e-commerce Indonesia mencapai US$12 miliar. Peluang ini yang perlu segera dimanfaatkan. Apalagi, saat ini dunia digital menjadi solusi bagi semua sektor, termasuk di industri kecil dan menengah," ungkapnya. [ipe]

Komentar

 
x