Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 13:25 WIB

RI Masih Impor Alumina, Ini Sesumbar Inalum

Oleh : - | Rabu, 6 Desember 2017 | 18:18 WIB
RI Masih Impor Alumina, Ini Sesumbar Inalum
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, KualaTanjung - Delapan tahun lagi, PT Indonesia Asahan Aluminium(Persero/Inalum) yakin tidak perlu impor alumina, bahan baku aluminium. Bisa dipenuhi pabrik smelter Grade Alumina Refinery/SGAR) di Mempawah, Kalbar.

"Jika proyek SGAR beroperasi, Inalum diproyeksikan tidak lagi mengimpor alumina. Selama ini impor alumina Inalum dari Australia bisa distop, karena nantinya sudah dapat diproduksi di dalam negeri," kata General Manager SDM & Umum Inalum, Moh Rozak Hudioro di sela Media Gathering Inalum 2017, Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, Rabu (6/12/2017).

Kata Rozak, ketika pabrik smelter yang dibangun di kawasan Tanah Kuning, Kaltara beroperasi, bisa mendorong penghematan dan efisiensi. Karena, tidak lagi ada devisa yang keluar untuk pembelian alumina dari luar negeri.

Saat ini, kapasitas produksi Inalum di pabrik Kuala Tanjung, Sumatera Utara, mencapai 260.000 ton aluminium ingot. Diharapkan bisa melonjak menjadi 500.000 ton pada 2022.

Ia menjelaskan, selama ini Inalum mengimpor alumina sebanyak 500.000 ton per tahun dengan harga alumina 400 dolar AS per ton. "Artinya dalam satu tahun, Inalum mengeluarkan anggaran sekitar 20.000 dolar AS untuk kebutuhan alumina," ujarnya.

Dengan memiliki pabrik alumina sendiri di Mempawah, dipastikan bisa berhemat devisa. Selain itu, harga alumina bisa lebih stabil, karena sudah diproduksi di dalam negeri.

Saat ini, Indonesia memiliki cadangan bauksit bahan baku pembuatan alumina dalam jumlah besar, sehingga harus dimanfaatkan untuk keperluan hilirisasi aluminium di dalam negeri.

Berdasarkan data 2016, kebutuhan alumunium dalam negeri mencapai 800.000 ton. Sementara kemampuan Inalum sebagai satu-satunya produsen aluminium, hanya mampu memenuhi permintaan sebanyak 260.000 ton.

Untuk itu, Inalum harus memperbesar kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan nasional. Menurut catatan, proyek pabrik smelter SGAR di Mempawah memasuki tahap penyelesaian uji kelayakan, ditargetkan selesai 2018. Direncanakan, pembangunan tiang pancang perdana (groundbreaking) pada 2022, dan mulai beroperasi 2025.

Tahap awal, aktivitas produksi smelter menghasilkan 500.000 ton aluminium ingot. Tahap kedua, meningkat menjadi 1 juta ton, dan tahapan selanjutnya diharapkan naik lagi menjadi 1,5 juta ton.

Meski begitu kata Rozak, dalam mengoperasikan pabrik smelter harus diikuti dengan jaminan ketersediaan energi berupa pembangkit listrik. "Bahan bakar menjadi salah satu komponen terbesar dalam operasional sebuah pabrik smelter," ujarnya. [tar]

Komentar

 
x