Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 13 Desember 2017 | 18:17 WIB

Pemkab Kolaka Utara Seriusi Kakao Layak Apresiasi

Oleh : - | Kamis, 7 Desember 2017 | 09:09 WIB
Pemkab Kolaka Utara Seriusi Kakao Layak Apresiasi
Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kemetan) RI, Ir.Bambang memberi Apresiasi luar biasa kepada Bupati Kolaka Utara,Sulawesi Tenggara yang serius mengembangkan kakao (cokelat) - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Kendari - Direktur Jenderal Perkebunan, Bambang mengapresiasi Pemkab Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara yang serius mengembangkan kakao (cokelat). Agar petani cokelat semakin sejahtera.

"Sangat jarang bagi setiap kepala daerah seperti di Kolaka Utara yang hingga kini masih fokus untuk mengembangkan tanaman kakao dalam skala besar. Di daerah lain, ada kepala daerah justru mengubah lahan kakao itu menjadi pemukiman dan bahkan dijadikan bisnis proferti," kata Bambang melalui pesan WhatsApp di Kendari, Rabu (6/12/2017).

Kata mantan Kadis Perkebunan Sultra itu, perhatian dari kepala daerah dalam mempertahankan tanaman perkebunan, khususnya kakao, layak diapresiasi. Tidak salah apabila pemerintah pusat memberikan bantuan berupa bibit sebanyak 2.000/hektar pada 2018.

"Jadi bantuan bibit kakao sebanyak itu dikucurkan melalui dana DIPA dari Pusat Peneilitian Kakao (Puslitkoka) di Jember, Jawa Timur," ujar Bambang.

Sebelumnya, Bambang melakukan kunjungan di Kolaka Utara, menyempatkan diri melakukan penanaman bibit kakao di salah satu kebun milik petani di Desa Lawalatu, Kecamatan Ngapa. Langkah ini merupakan bentuk apresiasi kepada petani dan pemkab Kolaka Utara.

Bupati Kolaka Utara, Nur Rahman bilang, Kolaka Utara dalam beberapa tahun terakhir ini, terus mengalami penurunan produksi kakao. Penyebabnya, ribuan pohon kakao, banyak yang tua. Sehingga kurang produktif.

Ia mengatakan, dari sekitar 78.000 hektar luasan lahan kakao di Kolaka Utara, seluas 43.000 hektar sudah tidak berproduksi lagi. Dengan tidak berproduksinya lahan tersebut, menyebabkan pendapatan masyarakat menurun drastis.

"Bila kita hitung secara ekonomi, total pendapatan yang hilang selama pohon kakao tersebut tidak berproduksi lagi mencapai Rp3,5 triliun per tahun. Sementara hampir 80 persen penduduk Kolaka Utara mengandalkan dari sektor pertanian kakao," ujar Rahman.

Salah satu solusi yang diambil adalah dengan meremajakan kembali pohon kakao yang sudah tidak berproduksi lagi dan menggantinya dengan pohon yang baru. Jika pohon tersebut kembali berproduksi, maka dipastikan ekonomi masyarakat akan semakin meningkat lagi. [tar]

Komentar

 
x