Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 20 Juli 2018 | 15:26 WIB
 

Tembok Besar Halangi PGE Kembangkan Panas Bumi

Oleh : Uji Sukma Medianti | Kamis, 14 Desember 2017 | 12:50 WIB
Tembok Besar Halangi PGE Kembangkan Panas Bumi
Presiden Direktur PGE, Irfan Zainuddin - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) bakal membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP).

Presiden Direktur PGE, Irfan Zainuddin, mengatakan, diperkirakan pihaknya akan mencapai 2.137 MW pada 2025, seiring terbangunnya pembangkit yang sedang dibangun dan pembangkit-pembangkit baru.

Saat ini, PGE sudah memiliki pembangkit berkapasitas terpasangan 587 Megawatt (MW). Ancang-ancang PGE ini sejalan dengan misi pemerintah untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang potensinya mencapai 29.000 MW. Namun, sampai saat ini, baru terpasang sebesar 1.800 MW.

Namun begitu, kata Irfan, mengembangkan PLTP tidaklah mudah. Ada beberapa tantangan pengembangan PLTP ke depan, seperti tingginya investasi upfront, mencapai US$4-5 juta per MW. Belum lagi biaya pokok produksi (BPP) di sejumlah daerah yang belum ekonomis.

Irfan menerangkan, Peraturan Menteri ESDM Nomor 50/2017 juga meningkatkan risiko eksplorasi. kendala lainnya adalah terbatasnya data geoscience dalam proses lelang wilayah kerja panas bumi, penolakan yang tinggi dari masyarakat setempat termasuk juga konflik selama proses akuisisi lahan, belum adanya regulasi yang mengatur penjualan energi panas bumi secara langsung (harus melalui offtaker).

"Tapi juga masih ada beberapa peluang seperti semakin banyak perusahaan multinasional seperti IKEA, Google, Nestle, Nike, Unilever dan Apple yang berkomitmen yerhadap pengembangan energi bersih (EBT). Pemerintah perlu mengembangkan skema power wheeling," kata dia di Jakarta, Kamis (14/12/2017).

Adapun power wheeling, kata Irfan, merupakan skema pemanfaatan bersama jaringan transmisi, atau jaringan distribusi tenaga listrik. Terdapat dua skema untuk pemanfaatan bersama tersebut, pertama untuk penggunaan sendiri, misalnya terdapat industri yang memiliki pembangkit listrik, ingin menyuplai listrik untuk pabriknya di tempat yang berbeda. Karena, tidak memiliki jaringan transmisi dan distribusi, maka industri tersebut menggunakan jaringan transmisi dan distribusi milik PLN.

Skema kedua adalah bukan untuk pemakaian sendiri. Semisal, pembangkit listrik swasta (IPP) ingin menjual listriknya kepada konsumen industri. Karena, tidak memiliki jaringan transmisi dan distribusi, maka IPP tersebut menggunakan jaringan transmisi dan distribusi milik PLN.
Tentunya, perusahaan tadi maupun IPP yang memanfaatkan jaringan PLN, harus membayar sejumlah biaya tertentu. [ipe]

Komentar

x