Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 24 Januari 2018 | 10:50 WIB
 

Tren Surplus Menurun, Sikap Darmin Santai

Oleh : Mohammad Fadil Djailani | Jumat, 15 Desember 2017 | 13:51 WIB
Tren Surplus Menurun, Sikap Darmin Santai
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution - (Foto: Inilahcom/M Fadil Dj)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyikapi santai penurunan tren surplus neraca perdagangan Indonesia. Menurut dia, naik atau turunnya surplus neraca perdagangan adalah hal yang wajar.

"Karena impor mulai naik. Engga ada yang aneh," kata Darmin saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (15/12/2017).

Darmin juga tak mempermasalahkan tingginya nilai impor pada bulan November tersebut, itu menandakan geliat ekonomi dalam negeri sedang tingginya karena banyakknya permintaan.

"Kita kalau mau ekonominya tumbuh mau engga mau impornya juga naik. Engga bisa ekspornya naik impornya engga naik. Itu berarti ada yang macet," katanya.

Asal tahu saja, salah satu penyebab dari berlanjutnya penurunan surplus neraca perdagangan ini adalah nilai impor Indonesia per November 2017 yang tumbuh tinggi melebihi ekspor.

Ekspor tumbuh hanya sekitar 0,26% (month-to-month atau mtm), sedangkan impor tumbuh hingga 6,42% (mtm), terbanyak impor yang di datangkan adalah impor barang modal.

"Kita memang belum menghasilkan bahan baku barang modal. Kecuali nanti kalau industri petrokimia sudah jalan. Kan belum, baru mulai. Industri baja, besi bajanya baru mulai kerja samanya dengan jepang. Artinya hasilnya belum keluar. Nah begtu juga di basic chemical, impor kita paling banyak ya itu, tiga kelompok itu," papar Darmin.

Jadi kata mantan Dirjen Pajak era SBY ini, menurunnya kinerja neraca dagang pada bulan November tidak perlu dibesar-besarkan. "Jadi ya, tidak usah merasa aneh kalau surplusnya mengecil," katanya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2017 mengalami surplus tipis yang sebesar US$130 juta. Surplus ini mengalami penurunan ketimbang bulan sebelumnya yang mencapai US$900 juta.

Angka neraca dagang bulan November ini didapat dari nilai ekspor yang mencapi US$15,28 miliar dan impor yang mencapai US$15,15 miliar.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan tipisnya nilai surplus ini perlu diteliti dan diperhatikan lebih lanjut lantaran penurunan surplus ini cukup dalam.

"Kalau November masih surplus US$0,13 miliar, tapi turun dari bulan sebelumnya, tipis sekali surplusnya, pergerakan ini perlu dicermati," kata Kecuk.

Kecuk bilang pada bulan November 2017 ekspor RI mencapai US$15,28 miliar naik tipis 0,26% apabila dibandingkan dengan Oktober 2017 yang sebesar US$15,09 miliar.

Sehingga secara kumulatif (Januari-November 2017), nilai ekspor Indonesia mencapai US$153,9 miliar atau meningkat 17,16% dibanding periode yang sama tahun 2016.

Sementara dari segi sektor, ekspor nonmigas masih mendominasi ekspor RI sepanjang tahun ini dengan share mencapai 90%, dimana hasil industri pengolahan menyumbang ekspor paling banyak dengan nilai mencapai US$11,45 miliar.

"Industri pengelolaan masih menunjukan peningkatan ekspor secara mount to mount, seperti minyak kelapa sawit, konveksi dari tekstil, barang berharga seperti perhiasan," papar Kecuk.

Sedangkan penyumbang ekspor yang lain adalah sektor pertambangan dan lainnya yang mencapai US$2,25 miliar, sektor migas, dimana sektor ini menyumbang US$1,27 miliar dan sektor pertanian dimana nilai ekspornya mencapai US$0,32 miliar.

Sementara untuk impor BPS mencatat sebesar US$15,15 miliar. Secara kumulatif, impor mencapai US$141,88 miliar atau naik 15,47% (yoy).

"Porsi paling besar mesin dan pesawat mekanik, dan mesin/peralatan listrik, itu barang yang paling banyak kita impor," imbuhnya.

Impor terbesar masih dipegang oleh China dengan 24,46%. Selanjutnya diikuti oleh Jepang dan Thailand, yang ternyata tidak berubah sejak beberapa bulan terakhir. [jin]

Komentar

 
Embed Widget

x