Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 22 Januari 2018 | 23:29 WIB
 

Bos OJK: Fintech Hadir, Perbankan Harus Siap

Oleh : - | Jumat, 22 Desember 2017 | 02:29 WIB
Bos OJK: Fintech Hadir, Perbankan Harus Siap
(Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Kalangan perbankan merasa galau dengan pesatnya perkembangan industri financial technology (fintech) di tanah air. Lantaran, fintech dianggap bisa menggantikan bank.

Namun, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Heru Kristiyana, mengatakan, perbankan tidak perlu gundah. kehadiran fintech tidak akan mengancam keberadaan bank. Yang ada justru memicu bank untuk meningkatkan layanan, melalui penerapan teknologi yang mumpuni.

Saat ini, kata Heru, perbankan sudah siap bersaing dengan fintech dengan mendigitalisasi layanan perbankan dan pada praktiknya mereka justru juga berkolaborasi.

"Tidak hanya bank yang besar, yang kecil juga melakukan hal yang sama. Sehingga saya optimis fintech, tidak akan men-'disrupt' perbankan kita, justru memicu perbankan kita memberikan layanan sama cepat dan sama baiknya dengan fintech," kata Heru di Jakarta, Kamis (21/12/2017).

Berdasarkan data OJK, saat ini terdapat 87 penyelenggara layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi atau peer to peer lending (P2P lending) fintech. Sebanyak 27 penyelenggara sudah mendapatkan izin dari OJK.

Dari 27 penyelenggara fintech, P2P lending tersebut, 26 berdomisili di kawasan Jabodetabek, sedangkan satu lainnya di Surabaya. Sementara itu dari sisi status, 19 penyelenggara P2P lending berasal dari lokal, sedangkan 8 dari asing. "Yang lain, 32 penyelenggara masih dalam proses pendaftaran dan 28 masih dalam minat mendaftar," kata Heru.

Hingga November 2017, penyaluran kredit melalui P2P lending sendiri sudah mencapai Rp2,3 triliun. Heru memastikan, pelayanan yang diberikan oleh penyelenggara fintech tidak akan menyimpang dari aturan yang sudah ditetapkan OJK.

"Per November, kredit fintech sudah Rp2,3 triliun. Jadi cepat ini. Memang membutuhkan disiplin. Kita juga regulator akan memastikan hal-hal yang menyimpang tidak terjadi," ujar Heru.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, persaingan antara fintech dengan perbankan, tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga negara-negara lain.

Wimboh menekankan, perbankan mau tidak mau memang harus siap bersaing dengan fintech, mengingat teknologi semakin maju dan tuntutan dari nasabah untuk mendapatkan layanan yang baik dan cepat juga semakin meningkat.

"Fintehch ini seperti shadow banking, seperti perbankan. Cuma bukan diberikan oleh lembaga perbankan sehingga memang ada kemungkinan kalau perbankan tidak melakukan hal yang sama, otomatis nasabah lebih nyaman menggunakan fintech, bisa lebih cepat dan lebih murah. Sehingga perbankan harus 'ready'," ujar Wimboh. [tar]

Komentar

 
Embed Widget

x