Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 20 Juli 2018 | 15:25 WIB
 

Tim Ekonomi Jokowi Disarankan Cermati Minyak Dunia

Oleh : - | Jumat, 22 Desember 2017 | 16:38 WIB
Tim Ekonomi Jokowi Disarankan Cermati Minyak Dunia
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah perlu mengantisipasi fenomena kenaikan harga minyak dunia yang diperkirakan berlanjut hingga 2018.

Berdasarkan kajian Tim Ekonom DBS bertajuk Regional Industry Focus: Oil and Gas di Jakarta, Jumat (22/12/2017), menyatakan, setelah terjerembab dua tahun sejak 2014, bahkan sempat di bawah US$30 per barel di awal 2016, harga minyak dunia merangkak naik dalam setahun ini. Harga terakhir menyentuh level US$57 per barel.

Pemulihan harga tersebut dinilai tak lepas dari kesepakatan negara-negara penghasil minyak pada November 2016 untuk memangkas produksi dan ekspor sebesar 1,8 juta barrel per hari.

Dengan demikian, pemangkasan produksi dan ekspor tersebut diperkirakan akan diperpanjang hingga kuartal pertama tahun depan, untuk memulihkan harga minyak dunia, yang sebelum anjlok berada di kisaran US$100 per barel.

Untuk asumsi rata-rata harga minyak pada 2018, diperkirakan akan naik. Selain didorong pemangkasan, faktor lain yang mendongkrak kenaikan harga adalah tumbuhnya konsumsi minyak di Amerika Serikat, kawasan Uni Eropa, Republik Rakyat China dan India.

Kendati demikian, tim riset DBS menyatakan peningkatan harga minyak mentah akan berdampak positif terhadap anggaran pemerintah Indonesia.

Sebabnya, pendapatan pajak dan non pajak dari sektor migas yang diperkirakan Rp113 triliun masih 10% lebih tinggi ketimbang subsidi energi 2018.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, memastikan, kenaikan harga minyak periode 2017-2018, bisa memberikan dampak positif kepada penerimaan negara. "Kalau harga minyak keseimbangannya ada diatas 50 dolar AS per barel, maka penerimaan negara akan meningkat," ujar Sri Mulyani dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (20/12/2017).

Sri Mulyani mengatakan harga minyak di pasar internasional sepanjang 2017 mengalami imbas dari kenaikan harga komoditas global secara keseluruhan.

Kenaikan harga minyak itu, lanjut dia, memberikan tambahan penerimaan untuk pajak penghasilan maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor migas.

Menurut Sri Mulyani, setiap satu dolar AS kenaikan harga minyak dari asumsi yang ditetapkan dalam APBN, bisa memberikan tambahan pendapatan sebesar Rp0,7 triliun.

"Dinamikanya penerimaan dari PNBP maupun pajak migas akan meningkat, itu apabila (realisasi) diatas yang diasumsikan di 48 dolar AS per barel," ujarnya.

Saat ini rata-rata harga ICP minyak hingga akhir tahun mencapai 50,3 dolar AS per barel atau sedikit diatas asumsi di APBNP sebesar US$48 per barel. [tar]

Komentar

x