Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 20 Juli 2018 | 15:35 WIB
 

Harga BBM & TTL Tetap, Pertamina & PLN Aman?

Oleh : - | Sabtu, 30 Desember 2017 | 08:09 WIB
Harga BBM & TTL Tetap, Pertamina & PLN Aman?
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Wakil Ketua Komisi VII DPR Herman Khaeron menilai, keputusan menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif Tenaga Listrik (TTL) hingga triwulan I-2018 sudah benar. Tapi, bagaimana nasib 2 BUMN.

"Keputusan Pemerintah ini menjadi kabar baik bagi rakyat, di tengah kondisi daya beli rakyat yang sedang melemah, meskipun harga minyak dunia terus naik," kata Herman melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Jumat (29/12/2017).

Menurut Herman, meskipun pemerintah terkesan tabu menyebut penambahan subsidi, namun sebaiknya keputusan tersebut disertai dengan penyesuaian formula penugasan, baik kepada PT Pertamina (Persero) maupun PT Perusahaan Listrik Negara (Persero/PLN).

Keputusan tidak naiknya harga BBM bersubsidi dan tarif dasar listrik (TDL), menurut dia, sepertinya tidak ada masalah dengan keuangan negara. Namun akan sangat memengaruhi keuangan PT Pertamina dan PT PLN.

Herman mencontohkan, jika harga BBM penugasan kepada PT Pertamina tidak pernah dilakukan penyesuaian sejak ditetapkan melalui Peraturan Menteri ESDM No 39 tahun 2015 tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM.

Maka, kenaikan harga minyak internasional yang saat ini mencapai US$66 per barel atau lebih tinggi, tidak sesuai dengan asumsi makro APBN 2018 sebesar US$48 per barel. Alhasil, berimbas kepada harga eceran BBM yang pada akhirnya menjadi beban finansial PT Pertamina. "Dapat dipastikan keuntungan PT Pertamina akan tergerus," kata politisi Demokrat ini.

Herman menjelaskan, harga eceran BBM bersubsidi sejak 2016 ditetapkan, premium Rp6.450 per liter dan bio-solar Rp5.150 per liter, dengan posisi ICP US$37 per barrel. Padahal harga minyak dunia saat ini sudah naik dan mencapai US$66 per barel.

"Selama 2017, Pertamina kehilangan peluang keuntungan sekitar Rp19 triliun. Angka yang sangat besar dan mestinya dapat mendongkrak kemampuan Pertamina berinvestasi," katanya.

Herman juga menyoroti, kondisi finansial PT PLN, di mana potensi keuntungannya terus tergerus karena melaksanakan penegasan Pemerintah, yakni tidak ada penyesauaian TDL.

PT PLN, kata dia, melaksanakan penugasan Pemerintah dengan penetapan harga jual TDL per KHW ditetapkan oleh Pemerintah tanpa dukungan kebijakan fiskal, di mana harga energi primernya terus naik. "Bahkan kenaikan harga batubara menjadi penyebab utama beban finansial PT PLN," katanya.

Menurut Herman, hal ini menjadi pilihan Pemerintah, apakah akan mempertahankan harga tidak naik tapi dengan membiarkan PT Pertamina dan PT PLN kehilangan kemampuan finansialnya, tidak mampu melakukan investasi yang dampaknya kehilangan sumber pendapatan keuangan negara.

Di sisi lain, kata dia, apakah Pemerintah menyediakan tambahan APBN untuk mereformulasi besaran subsidi terhadap harga penugasan. "Kedua opsi ini merupakan domain Pemerintah," katanya.

Menurut Herman, mestinya Pemerintah melakukan penguatan fiansial PT Pertamina dan PT PLN di tengah persaingan global, agar mampu melakukan percepatan investasi sekaligus meningkatkan sumber pendapatan negara. [tar]

Komentar

x