Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 22 Januari 2018 | 23:28 WIB
 

Bappenas: Beras dan Rokok Bikin Orang Jatuh Miskin

Oleh : - | Selasa, 9 Januari 2018 | 19:50 WIB
Bappenas: Beras dan Rokok Bikin Orang Jatuh Miskin
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Tahukah Anda kalau beras dan rokok adalah penyumbang kemiskinan terbesar di Indonesia. Kalau tak mau miskin, bijaklah mengatur belanja, khususnya untuk kedua komoditas itu.

Adalah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang menyebut beras dan rokok kretek filter, memberikan sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan. Baik di perkotaan maupun perdesaan.

Per September 2017, beras berkontribusi terhadap kemiskinan di perkotaan sebesar 18,8%. Sedangkan di perdesaan sebesar 24,52%. Sedangkan rokok kretek di perkotaan menyumbang 9,98%, dan perdesaan 10,7%.

"Jadi, selain beras, rokok kretek juga bisa membuat orang miskin," kata Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Komoditi lain yang menyumbang kemiskinan antara lain telur ayam ras, daging ayam ras, mi instan, gula pasir, dan juga daging sapi.

Khusus untuk daging sapi, kontribusi terhadap kemiskinan terasa sejak dua tahun terakhir. Daging sapi di perkotaan per September 2017, menyumbang 5,71%. Sedangkan di perdesaan menyumbang 2,83%.

"Untuk daging sapi, ada perubahan pola konsumsi. Mungkin karena perbaikan 'income' dan kesadaran perbaikan gizi, masyarakat mulai mengonsumsi daging sapi. Ini bagus karena daging sapi sudah jadi kebutuhan," ujar Bambang.

Bambang menambahkan, pemerintah mengarahkan bantuan pangan non tunai (BPNT) untuk memperbaiki pola konsumsi pangan masyarakat. Pada 2018, BPNT diperluas dari 1,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM) di 44 kota menjadi 10 juta KPM di 217 kabupaten/kota.

Tujuan BPNT yaitu untuk mengurangi beban pengeluaran KPM dan meningkatkan akses pangan, serta memperbaiki investasi pada nutrisi yang kemudian akan meningkatkan nilai tambah bantuan.

Selain itu, BPNT juga untuk memperbaiki perubahan pola konsumsi terutama di perkotaan, di mana tren menunjukkan peningkatan konsumsi makanan dan minuman olahan.

Penyaluran secara non tunai juga akan meningkatkan transaksi non tunai, inklusi keuangan, dan pertumbuhan ekonomi di daerah di mana terdapat perputaran komoditas pangan. [tar]

Komentar

 
x