Rabu, 3 September 2014 | 13:59 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Menunggu Kucuran LNG dari Blok Masela
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Ahmad Munjin
ekonomi - Sabtu, 30 Januari 2010 | 08:31 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Jakarta - Sejak 1998 Indonesia sudah memberikan izin eksplorasi gas kepada Inpex, di Masela wilayah perairan Maluku Tenggara. Namun, sampai 2010 perusahaan Jepang tersebut belum melakukan apa-apa.
Blok Masela terletak di wilayah perairan Maluku Tenggara yang berbatasan dengan propinsi Nusa Tenggara Timur, Australia dan Timor Leste. Di sinilah izin eksplorasi itu diberikan pemerintah Indonesia kepada Inpex, sebuah perusahaan Jepang sejak 1998. Tapi, sampai 2010 perusahaan Jepang tersebut belum banyak melakukan kegiatan.
Situasi ini dipastikan menimbulkan kerugian besar bagi Indonesia. Sebab, ekspor gas yang seharusnya bisa menjadi salah satu sumber devisa, tidak terjadi sama sekali. Banyak pihak mengkhawatirkan, penundaan eksplorasi ini tidak pernah diketahui oleh para presiden termasuk sebelum-sebelumnya.
Informasi tentang potensi deposit gas yang bisa menghasilkan triliunan rupiah bagi kas negara, tidak pernah sampai ke meja para Presiden RI. Atau, kalaupun sampai, sudah disunat sedemikian rupa demi kepentingan investor yang enggan mengeksplorasinya sesegera mungkin.
Pri Agung Rakhmanto, Direktur Eksektuif Reforminer Institute mengatakan sampai saat ini Blok Masela sudah memiliki Plant of Development (PoD) sementara. Artinya, sudah mulai tahap eksploitasi.
Sebab, blok ini membutuhkan konstruksi terlebih dahulu. Di sana harus dibuat kilang LNG terapung. Karena itu, dari sisi konstruksi membutuhkan waktu, katanya ketika dikonfirmasi INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (29/1).
Masa eksplorasi adalah 10 tahun dan setelah itu baru masa eksploitasi. Kalau tidak, tentu saja harus dikembalikan kepada pemerintah. Namun demikian, Pri mengaku tidak tahu persis, apakah Inpex baru akan menghasilkan LNG sampai 2016. Dalam POD sementara, konstruksi yang akan dibangun adalah LNG terapung, ucapnya.
Namun, kilang LNG terapung menurutnya bukan merupakan pilihan final. Pilihan ini masih akan dibandingkan dengan kilang LNG darat. Visibility study-nya masih akan dinilai oleh pihak yang independen, ujarnya.
Terkait LNG terapung, bisa saja Inpex bekerja sama dengan perusahaan lain yang memiliki keahlian di bidang LNG terapung. Namun, perusahaan tersebut harus join dengan pihak pengembang utamanya.
Tinggal, apakah pemerintah menyetujui atau tidak. Karena itu, yang disetujui pemerintah belum tentu LNG terapung. Ini masih akan dibandingkan terlebih dahulu, ucapnya.
LNG terapung akan menjadi bukan pilihan jika ternyata biayanya lebih besar. Sebab, kerjasama itu merupakan urusan B to B (business to business). Pemerintah, hanya menerima konsekuensinya seperti apa nantinya; menguntungkan atau tidak. Yang jelas, perusahaan Jepang itu sudah komit untuk mengembangkan. Apakah komitmennya sesuai atau tidak, BP Migas yang tahu, tambahnya.
Di atas semua itu, Pri menyayangkan keputusan pemberian izin eksplorasi itu tidak melibatkan PT Pertamina. Namun ini sudah diputuskan, seharusnya dulu partisipating interest 10% itu diberikan kepada PT Pertamina, imbuhnya.
Diperkirakan, deposit gas yang terkandung di Blok Masela tidak akan habis hingga 20 tahun ke depan. Pengembangan gas di Blok Masela itu memang membutuhkan waktu dan dana yang cukup besar.
Totalnya, diperkirakan lebih dari US$20 miliar. Namun, dana sebesar itu kalau menggunakan teknologi lama, di mana kilang LNG harus dibangun di darat seperti di Aceh dan Bontang.
Sebaliknya, jika menggunakan teknologi baru berupa kilang LNG terapung, eksplorasi gas atau LNG itu dapat dilakukan dengan waktu yang lebih singkat dan dana yang lebih kecil.
Sebenarnya ada salah satu perusahaan yang menguasai teknologi baru di bidang LNG terapung yakni Flex LNG, perusahaan asal Norwegia. Dengan teknologi baru itu, kilang LNG terapung ini bisa melakukan penyedotan LNG dari dasar laut lalu menyalurkannya ke kapal kilang terapung. Lantas dengan kapal itu pula, LNG langsung dapat diekspor atau dikirim ke negara pembeli.
Berkat teknologi baru ini, biaya eksplorasi menjadi murah sehingga harga jual LNG dari Masela Indonesia itu pun menjadi lebih murah sehinga jauh lebih kompetitif dibanding dengan LNG dari negara manapun di dunia.
Yang diperlukan saat ini adalah pemerintah harus segera minta kepada Jepang atau investor manapun untuk mengeksploitasi ladang Masela tersebut. Semakin cepat semakin baik. Sebab semakin cepat dikerjakan semakin cepat pula penghasilan dari LNG bisa masuk ke kas negara. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
2 Komentar
genza lewier
Selasa, 2 Februari 2010 | 14:31 WIB
saya heran pemerintah gencar buat eksploitasi hasil migas d pulau masela tapi apa hasilnya...masyarakat disana tak pernah diperhatikan dan malah tidak diperdayakan
Warren Buffet
Sabtu, 30 Januari 2010 | 16:34 WIB
Ingat Blok Masela, maka kita diingatkan pula dengan aksi korporasi perusahaan Bakrie Energi Mega Persada (ENRG), yang kini sedang right issue, salah satu tujuan dananya untuk akusisi 10% blok Masela (has LNG).Nah, apa anda tidak bingung, perusahaan Jepang saja dari dulu belum juga eksplorasi gas LNG di blok ini, tetapi ENRG sudah mau akusisi 10% saham blok Masela ini. Apakah benar right issue ENRG akan akusisi 10% saham blok ini? Perusahaan Jepang saja masih bingung dgn kontruksi LNG nya.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER