Jumat, 1 Agustus 2014 | 22:54 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Harga Keekonomian Solar di Atas Subsidi
Headline
Evita Legowo - tempo photo
Oleh:
ekonomi - Selasa, 2 Desember 2008 | 11:15 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Jakarta - Departemen ESDM mengungkapkan harga keekonomian bahan bakar minyak jenis solar masih di atas subsidi yang ditetapkan Rp 5.500 per liter.

"Harga keekonomian solar saat ini masih di atas harga solar subsidi," kata Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo di Jakarta, Selasa (2/12). Namun demikian pemerintah tetap mengkaji penurunan harga solar bersubsidi pada Januari 2009.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka Jakarta, Senin (1/12) mengatakan, pemerintah tengah mengitung penurunan solar bersubsidi yang disesuaikan dengan upaya penyelamatan perekonomian secara keseluruhan.

Presiden berharap penurunan harga solar akan semakin meringankan beban rakyat setelah per 1 Desember 2008, pemerintah menurunkan harga premium bersubsidi sebesar Rp 500 per liter menjadi Rp 5.500 per liter.

Evita belum mau membeberkan kisaran penurunan harga solar yang akan diambil pemerintah. "Sulit menyampaikan besarannya," katanya.

Menurut dia, penurunan harga solar sangat tergantung pada harga minyak mentah dunia dan kurs rupiah terhadap dolar AS saat perhitungan. Apalagi, harga minyak mentah dan kurs saat ini masih berfluktuasi dan sulit diprediksi.

Sebelumnya sejumlah kalangan baik pengamat maupun anggota DPR mendesak selain premium, pemerintah agar juga menurunkan harga solar bersubsidi minimal Rp 500 per liter.

Anggota Komisi VII DPR Alvin Lie mengatakan, meski harga keekonomian solar belum menyentuh subsidi, namun untuk membantu kehidupan rakyat harga solar bersubsidi selayaknya diturunkan juga.

Solar, katanya, malah lebih berdampak langsung terhadap kegiatan ekonomi rakyat seperti angkutan umum, truk yang membawa hasil tani dan industri, mesin tempel perahu nelayan, dan traktor petani. Sedang premium lebih banyak digunakan masyarakat berpenghasilan menengah ke atas yang memiliki kendaraan pribadi.

Pemerintah melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 38 Tahun 2008 tertanggal 28 Nopember 2008 memutuskan untuk menurunkan harga premium bersubsidi dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500 per liter mulai 1 Desember 2008 pukul 00.00 WIB.

Sedang harga solar dan minyak tanah bersubsidi diputuskan tetap masing-masing Rp 5.500 dan Rp 2.500 per liter. Perubahan harga premium bersubsidi tersebut terkait dengan penurunan harga minyak mentah di pasar dunia.

Sesuai permen, Menteri ESDM akan mengevaluasi harga jual BBM bersubsidi setiap bulan akan disesuaikan dengan perkembangan harga minyak dunia. Namun, meski mengikuti harga minyak dunia, harga jual eceran premium bersubsidi ditetapkan paling tinggi Rp 6.000 per liter. [*/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER