Find and Follow Us

Jumat, 6 Desember 2019 | 07:07 WIB

Perlambatan Global Ganggu Penguatan Emas

Oleh : Ahmad Munjin | Kamis, 17 November 2011 | 06:01 WIB
Perlambatan Global Ganggu Penguatan Emas
inilah.com/Agus Priatna
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Kecemasan pasar atas krisis Italia sejatinya memicu peralihan pada aset-aset safe haven seperti emas. Tapi, isu perlambatan ekonomi global justru membebani rali emas.

Periset dan analis PT Monex Investindo Futures Daru Wibisono memperkirakan, setelah menguat ke level US$1.802,60 per troy ounce, pergerakan emas secara umum akan volatile dalam kisaran US$1.700-1.800. Sebab, pasar masih diwarnai kekhawatiran krisis utang Eropa. Alih-alih mereda, krisis kawasan itu justru potensial menyebar ke zona Eropa lainnya.

Setelah Yunani dan Italia, lanjut Daru, kini Perancis berpeluang terpapar krisis seiring isu pemangkasan rating kredit. Imbal hasil Italia sempat mencapai 7,502%. Sementara Perancis dan Spanyol juga sempat tembus 7% untuk yield obligasi 10 tahun.

"Ini menandakan, betapa cemasnya pasar dan sinyal suatu negara bakal mendapatkan bailout karena mengarah pada kebangkrutan atau default," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (16/11).

Sebelumnya, tiga negara yang mendapatkan warning dari angka yield obligasi 7% adalah Yunani, Portugal dan Irlandia yang dipaksa mendapatkan bailout dari Uni Eropa dan International Monetary Fund (IMF).

Dalam situasi ini, lanjutnya, pasar akan menghentikan permintaan atas aset berisiko dan cenderung beralih ke aset-aset yang lebih aman termasuk emas. Dari sisi ini, emas seharusnya terdongkrak. Sebab, Italia merupakan negara ketiga terbesar di Eropa sementara Perancis merupakan kedua terbesar sehingga jika dibailout terlalu besar. "Utang Italia saja mencapai 1,9 triliun euro," paparnya.

Hanya saja, penguatan emas terhambat isu perlambatan Gross Domestic Product (GDP) secara global. Jika GDP menurun, permintaan emas pun turun. Begitu juga dengan komoditas lainnya. Apalagi, perlambatan terjadi di China yang juga merupakan konsumen emas terbesar.

Menurutnya, GDP Eropa masih stagnan di level 0,2% untuk kuartal III-2011. Artinya, Eropa tidak mengalami pertumbuhan. Bahkan, untuk angka tahunannya turun jadi 1,4% dari sebelumnya 1,6%.

Pada saat yang sama, sebagai raksasa konsumsi dunia, GDP China juga turun ke level 9,1% yang merupakan penurunan tiga kuartal berturut-turut. China diisukan akan mengalami perekomian dengan hard landing.

Hingga Oktober 2011, semua data China mendukung hal itu mulai dari data Producer Price Index (PPI) yang dirilis 5% dari angka sebelumnya 6,5%, Inflasi di level 5,5% dari sebelumnya 6,1%, retail sales di level 17,2% dari sebelumnya 17,7% dan industrial output jadi 13,2% dari sebelumnya 13,8%.

Di sisi lain, lanjutnya, investor juga masih menunggu keputusan yang lebih sempurna dari krisis Eropa. Seperti di Italia masih ada voting kepercayaan dari Parlemen Italia terhadap Mario Monti yang ditunjuk presiden menjadi perdana menteri sebagai pengganti Silvio Berlusconi dan pembentukan kabinet baru akhir pekan ini.

Menurutnya, support emas di level US$1.750 dari posisi running di level US$1.767 per troy ounce. Support berikutnya di level US$1.735 hingga US$1.700-1.680. Sementara itu, resistance emas masih di level US$1.800. "Jika diasumsikan tembus, resistance berikutnya US$1.830, US$1.860-1.890. Target terdekat pasar adalah tembus US$1.800," tandasnya.

Di atas semua itu, Daru merekomendasikan buy on dip (beli di level-level bawah) untuk emas. Kalau bisa, beli di level US$1.680 yang merupakan level terendah awal November. "Kecemasan utang Eropa, memang seharusnya mendongkrak harga emas. Tapi, kekhawatiran perlambatan global juga mengurangi minat pasar atas emas. Jika pertumbuhan global melambat, semua tidak punya kemampuan untuk membeli emas," imbuh Daru Wibisono. [mdr]

Komentar

Embed Widget
x