Find and Follow Us

Kamis, 21 November 2019 | 05:30 WIB

104 Tahun Kebangkitan Nasional

Pegang Rupiah, Hati Masih Gundah?

Oleh : Restu A Putra | Minggu, 20 Mei 2012 | 18:24 WIB
Pegang Rupiah, Hati Masih Gundah?
inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Dari sisi ekonomi, mata uang dapat menjadi ukuran kekuatan suatu negara. Bagaimana dengan rupiah dalam peta ekonomi global saat ini?

Dengan semangat 104 Tahun Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei hari ini, dapat menjadi renungan untuk dapat segera berbenah. "Nilai tukar kurs kita itu dengan dolar masih menjadi indikasi bagaimana perekonomian Indonesia," ujar pengamar pasar modal, Yanuar Rizki kepada INILAH.COM, Rabu (16/2/2012).

Pada perdagangan terakhir pekan ini, Rabu (16/5/2012) rupiah melemah tajam ke 9.393 per dolar AS dan ditutup pada level terkuatnya hari ini di 9.239. Penyebabnya, dolar AS cenderung menguat seiring pasar yang mendiskon kondisi peluang keluarnya Yunani dari Uni Eropa.

Dalam pasar keuangan, memang nilai tukar tidak dapat pisahkan dari isu-isu yang terjadi di belahan dunia yang jauh sekalipun. Pengamat valas, Farial Anwar menjelaskan perbankan nasional identik dengan dana-dana asing yang keluar masuk berinvestasi di Indonesia. Sehingga jika terjadi gejolak di euro atau dolar misalnya maka rupiah ikut terkena dampaknya.

"Seperti halnya yang terjadi di Uni Eropa sekarang mengapa berpengaruh karena investor-investor asing enggan menggunakan mata uang yang rentan, dan lebih baik memakai dolar," jelas Fairal Anwar.

Di sini lah permasalahannya, menurut Fairal, nilai mata tukar mata uang memepngaruhi perkembangan eknomi Indonesia karena banyak investor asing yang bermain di perbankan nasional, bahkan dominan. Oleh karenanya keuangan nasional tidak memiliki kekuatan.

Salah satu penyebabnya, ungkap Farial, belum ada ketegasan pemerintah menurunkan regulasi yang mengatur investor asing. "Baru belakangan diatur kepemilikan saham, itu pun belum efisien karena arah investasinya masih tetap mempersilakan investor asing berlaku semaunya di perbankan nasional," jelasnya.

Padahal seharusnya, ada aturan jelas investasi asing itu bermain di area sektor riil seperti infrastruktur, agar dampaknya terasa bagi rakyat Indonesia.

"Jadi tidak bermain-main di bursa saja setelah itu pergi sehabis meraih untung. Pangkalnya, ya ini dari pemegang kewenangan keuangan kita harus jelas menetapkan regulasi dan tidak mudah didikte asing, hanya karena alasan era globalisasi siapa pun bebas masuk," jelasnya.

Rupiah masih butuh waktu lama untuk menjadi aset yang aman saat banyak risiko terjadi atau aset safe haven seperti dolar AS. Dalam beberapa hari terakir, rupiah jatuh terseret kekhawatiran terhadap masa depan politik Yunani. Investor yang sudah memegang rupiah ramai-ramai berganti mengantongi dolar AS.

Namun, menurut Yanuar Riski, kekuatan dan kemandirian ekonomi dapat dibentuk hingga menjadi kuat. Syaratnya, perlu semangat yang tinggi dari kepemimpinan nasional. Negara harus menggunakan tanggannya melalui aturan dan hukum yang jelas untuk melindungi kepentingan nasional. "Semua masih memikirkan dirinya masing-masing," lanjutnya.

Kepedulian terhadap harga diri bangsa dari para pembuat kebijakan masih diragukan. Sebab lebih sering hanya merespon dari perkembangan yang terjadi dan desakan asing. "Tapi bukan bararti salah untuk memulai, meski terlambat dibanding negara lain," paparnya. [hid]

Komentar

Embed Widget
x