Find and Follow Us

Rabu, 22 Januari 2020 | 06:30 WIB

Jelang Memorial Day, Minyak di Level Terendah

Oleh : Wahid Ma'ruf | Sabtu, 26 Mei 2012 | 14:40 WIB
Jelang Memorial Day, Minyak di Level Terendah
IST
facebook twitter

INILAH.COM, New York - Publik Amerika Serikat dipastikan menjalani Memorial Day pada Senin (28/5/2012) dengan harga bensin yang murah. Bahkan terendah sejak dua tahun terakhir.

Harga minyak mentah dunia pada penutupan Selasa (22/5/2012) sudah menyentuh level terendah di kisaran US$90 per barel atau turun US$1,7 per barel. Banyak analis energi menilai harga minyak mentah berada di posisi terendah saat menghadapi sisa musim panas.

Memorial Day yang dilaksanakan setiap tahun pada hari Senin pekan terakhir bulan Mei, jatuh pada Senin (28/5/2012). Dengan demikian pasar minyak mentah dan bursa AS juga menjalani libur panjang selama tiga hari mulai Sabtu, Minggu dan Senin. Hari yang penting untuk memperingati pahlawan AS yang gugur dalam semua peperangan diwarnai dengan mengunjungi makam keluarga mereka yang ikut gugur dalam perang.

Akhir pekan ini, harga bensin rata-rata sekitar US$3,6 per galon. Angka ini turun 26 sen per galon dari posisi tertinggi di US$3,9 per galon pada awal April 2012. Untuk harga gas bisa turun menjadi US$3,3 per galon di South Carolina dan tertinggi di California mencapai US$4,3 per galon. Demikian mengutip cnbc.com.

"Untuk awal musim panas kali ini para pemilik kendaraan akan menikmati harga bensin yang lebih murah dari tahun lalu. Ini melegakan 34,8 juta orang Amerika. Memasuki musim panas, harapan kami berdasarkan kondisi pasar saat ini tingkat harga minyak memiliki ruang untuk terus turun," kata Avery Ash, analis energi di AAA yang berbasis di Washington.

Sementara untuk harga minyak mentah di pasar global, harga tertinggi minyak AS jenis light sweet sempat menyentuh US$110 per barel. Ke depan harga minyak mentah dipengaruhi kemajuan diplomasi terhadap program pengembangan nuklir Iran. Dengan kekhawatiran pasar terhadap konflik di kawasan teluk Hormuz harga minyak akan mengalami kenaikan premi risiko sekitar US$20 per barel. Jika risiko perang kecil maka premi juga ikut turun.

Namun kepada ekonom American Petroleum Institute (API), John Felmi menduga penurunan harga minyak karena reaksi pasar terhadap krisis utang Eropa. Pasar khawatir, Uni Eropa akan masuk resesi. Apalagi bersamaan dengan ekonomi AS yang melambat. Demikian juga dengan ekonomi China.

Komentar

x