Find and Follow Us

Jumat, 6 Desember 2019 | 07:47 WIB

Perbaikan Irigasi Perlukan Dana Rp21 Triliun

Minggu, 29 Juli 2012 | 14:37 WIB
Perbaikan Irigasi Perlukan Dana Rp21 Triliun
inilah.com/Agus Priatna
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Kementerian Pertanian mengungkapkan dana yang diperlukan untuk memperbaiki saluran irigasi yang mengalami kerusakan saat ini mencapai Rp21 triliun.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan, saat ini seanyak 52 persen saluran irigasi di tanah air mengalami kerusakan.

"Kalau total semuanya mau diperbaiki membutuhkan dana Rp21 triliun. Kementerian Pertanian akan mengalokasikan Rp3 triliun," ujar Suswono,ketika melakukan Safari Ramadan ke wilayah sentra padi di pantura Jawa Barat yakni Kabupaten Karawang, Subang dan Indramayu,di Kabupaten Indramayu Jawa Barat, akhir pekan ini seperti dikutip dari Antara.

Suswono menuturkan, dari Rp3 triliun yang dialokasikan oleh Kementerian Pertanian tersebut untuk memperbaiki jaringan irigasi tersier, sedangkan untuk yang skalanya lebih besar seperti waduk ditangani Kementerian PU.

Menurut Suswono, perbaikan jaringan irigasi pertanian yang mengalami kerusakan tersebut akan dilakukan dengan sistem padat karya bukan dengan proyek secara tender.

"Jadi, nanti yang mengerjakan dan mengelola adalah petani, ini lebih bagus daripada diproyekkan," katanya.

Suswono menyatakan, saat ini, sudah dilakukan pendataan saluran irigasi yang mengalami kerusakan tersebut yang mana paling lambat pada tahun depan sudah dapat diagendakan untuk rehabilitasi.

Menanggapi keluhan petani yang mengalai kesulitan air, menteri menyatakan pihaknya akan memberikan bantuan pompa-pompa air untuk mengalirkan air ke sawah. Namun, pengelolaannya diserahkan ke pemda.


Alih Fungsi Lahan

Sebelumnya, ketika meninjau Gudang Bulog Purwosari Karawang, Mentan mengungkapkan tingginya laju alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian di salah satu lumbung padi Jawa Barat tersebut.

Menurut dia, sekitra 800 hektare per tahun lahan pertanian di Karawang berubah fungsi menjadi pabrik dan perumahan, yang dampaknya sangat signifikan terhadap penurunan produksi padi di wilayah tersebut.

"Bayangkan, 800 hektare lahan pertanian beralih fungsi menjadi perumahan/industri, jika dikalikan dengan dua kali panen dan satu kali panennya menghasilkan 5--6 ton sudah berapa kehilangannya," katanya.

Berdasarkan catatan Dinas Pertanian Jawa Barat, Kabupaten Karawang yang sebelumnya merupakan lumbung padi pertama di provinsi tersebut kini menduduki peringkat kedua penghasil beras di Jawa Barat dan posisinya telah digeser oleh Kabupaten Indramayu.

"Kami sudah meminta bupati maupun wali kota agar menekan laju konversi lahan pertanian ini karena mereka yang bisa melakukannya," tutur Suswono.


Komentar

x