Find and Follow Us

Kamis, 23 Januari 2020 | 09:03 WIB

Pengusaha Takut Senasib dengan Hartati Murdaya

Sabtu, 9 Februari 2013 | 20:37 WIB
Pengusaha Takut Senasib dengan Hartati Murdaya
Siti Hartati Murdaya - Inilah.com/Agus Priatna
facebook twitter

INILAH.COM, JAKARTA - Vonis terhadap pengusaha Siti Hartati Murdaya yang didakwa melakukan suap meninggalkan trauma terhadap kalangan pengusaha dan investor. Mereka takut mengalami hal serupa dengan Hartati.

Para pemodal merasa menanamkan modal di daerah tidak lagi mudah namun penuh tantangan dan risiko. Salah-salah pengusaha bisa "di-Hartati-Murdaya-kan", alias dijebloskan ke penjara gara-gara terjebak situasi sulit akibat inkonsistensi kebijakan dan kesewenang-wenangan pejabat di daerah.

"Vonis itu jelas menjadi kendala bagi investor," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Anton J Supit, di Jakarta, Sabtu (9/2/2013). Menurutnya putusan pengadilan bisa menghilangkan peluang pengusaha untuk meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi.

Hartati sebelumnya dijatuhi vonis dua tahun delapan bulan penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta awal Februari. Ia didakwa memberi suap kepada Bupati Buol, Sulawesi Tengah, yang sebelumnya meminta sumbangan Pemilukada.

Hartati mengaku dirinya telah menjadi korban inkonsistensi kebijakan pemerintah, dimanainkonsistensi ini telah membuka peluang pejabat daerah untuk mempermainkan kebijakan guna menekan dunia usaha, termasuk menekan dirinya yang sudah lebih 18 tahun membangun perkebunan kelapa sawit dan berjasa memajukan ekonomi masyarakat Buol.

Menurut Anton J Supit, putusan Pengadilan Tipikor tersebut membuat kalangan dunia usaha berpikir dua kali untuk memutuskan berinvestasi di daerah. Mereka khawatir ketidak-pastian hukum dan tekanan dari penguasa daerah bisa menyebabkan mereka menjadi korban-korban yang berikutnya.

Pengalaman dirinya dan dari pengalaman para pengusaha yang lainnya, sejak era otonomi daerah kepastian hukum menjadi tidak jelas. Kepala daerah mempunyai kewenangan yang seakan-akan tanpa batas dan mereka cenderung menjadi penguasa.

"Banyak penguasa daerah yang berbuat seenaknya, termasuk kepada pengusaha. Pengusaha dimintai ini dan itu. Tentu sebagai pengusaha susah menolak, apalagi melawan. Kami jelas kalah karena mereka punya kewenangan luas, termasuk kewenangan membolak-balik kebijakan," tambahnya.

Kondisi seperti ini, menjadi masalah serius bagi kalangan pengusaha. Apalagi pengusaha yang sudah investasi ratusan miliar bahkan triliunan rupiah, tentu berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan investasi itu.

"Mestinya kondisi seperti ini menjadi konsideran pengadilan dalam membuat putusan. "Dalam pandangan saya, ini Bu Hartati merupakan korban dari ketidakpastian hukum. Korban kebijakan yang berubah-ubah karena pergantian kekuasaan. Tentu, kasus ini jadi pembelajaran bagi investor," tambahnya. [tjs]

Komentar

x