Find and Follow Us

Sabtu, 7 Desember 2019 | 13:33 WIB

RI Butuh Kemerdekaan Pangan

Oleh : Wiyanto | Sabtu, 17 Agustus 2013 | 06:22 WIB
RI Butuh Kemerdekaan Pangan
(Foto : inilah.com)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Kemerdekaan RI ke-68 seharusnya disambut dengan memerdekakan pangan. Sebab pangan menjadi barometer kesejahteraan. Harga pangan melejit, inflasi tinggi imbasnya daya beli melemah sehingga akan menciptakan masyarakat miskin baru.

Pengamat ekonomi Umar Juoro mengatakan, untuk menyambut kemerdekaan pemerintah jangan lupa memperhatikan masalah pangan. Memang kalau bicara beras, kecukupan dan stabilitas harga dapat diacungi jempol. Tapi melihat perkembangan masyarakat yang tumbuh taraf ekonominya jangan dijegal dengan bahan pokok lain yang melonjak seperti daging, bawang merah dan cabai.

"Sebetulnya produksi beras dan jagung meningkat, tapi pemerintah lupa masyarakat Indonesia juga mengkonsumsi daging sapi, tapi kini harganya mahal," ujar Umar kepada INILAH.COM di Jakarta, Jumat (16/8/2013).

Umar menyebutkan, permintaan kebutuhan daging sapi meningkat sehingga tidaklah mengherankan harganya juga melonjak. Meskipun pemerintah menugaskan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) menstabilkan harga, nyatanya belum berpengaruh signifikan. Harga daging sapi masih kisaran Rp90 ribu - Rp110 ribu per kg.

Tak hanya persoalan daging, masalah sayuran pemerintah juga lalai, lanjut Umar, karena harga bawang merah dan cabai juga terkerek naik. Memang kondisi cuaca yang menjadi penyebab utama tapi itu hal itu tidak bisa dijadikan kambing hitam.

"Kenapa produksi turun ini yang perlu diperhatikan. Memang cuaca mendorong penurunan ini (bawang merah dan cabai). Sementara daging meningkat kebutuhannya tapi produksi berkurang," katanya.

Atas kekurangan ini, pemerintah mencari jalan mudah dengan membuka keran impor. Namun menurut pengamat pertanian, Khudori, impor bukanlah solusi jangka panjang. "Impor memang solusi mudah. Saat ini pemerintah menggampangkan masalah. Ini tercermin dari manajemen pangan yang ad hoc dan serba akrobatik. Saat udah terdesak dan tak mungkin ada solusi lain ya impor. Tahun-tahun terakhir, impor malah jadi solusi penting. Akhirnya impor pangan kita terus melonjak," tuturnya.

Oleh karena itu, Khudori meminta kepada pemerintah agar menghentikan ketagihan impor. Salah satu kuncinya adalah dengan meningkatkan produksi dan menghentikan konservasi lahan.

"Hentikan orientasi impor dengan membenahi produksi dan produktivitas aneka pangan penting. Kebijakan ini harus diikuti peningkatan anggaran. Anggaran musti ditebar pada sejumlah pangan penting, bukan hanya beras. Perluasan lahan tak bisa ditawar-tawar, agar kita memiliki kemampuan yang memadai dalam produksi pangan. Konversi lahan pertanian musti dihentikan," kata Khudori. [mdr]

Komentar

x