Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 25 Mei 2018 | 20:27 WIB
 

Apindo: Lelang Gula Rafinasi Beratkan Pengusaha

Oleh : M Fadil Djailani | Rabu, 27 September 2017 | 13:27 WIB
Apindo: Lelang Gula Rafinasi Beratkan Pengusaha
Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sudah terang-terangan menolak kebijakan lelang gula kristal rafinasi (GKR).

Lantas apa yang menjadi alasan Apindo menolak kebijakan yang ditelurkan Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita tersebut? Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani beralasan lelang GKR hanya akan memberatkan para pelaku industri pengguna GKR dalam negeri.

"Tiga tujuan dari lelang gula ini kan, supaya UKM punya akses harga yang sama dengan perusahan besar. Kemudian ada Transparansi dalam peredaran gula, dan menghindari rembesan. Ini tidak akan tercapai," kata Hariyadi dalam sebuah diskusi di Kantor Apindo Jakarta, Rabu (27/9/2017).

Menurut Hariyadi, poin terpenting dalam kebijakan ini adalah untuk memberikan rasa keadilan, terutama dalam hal harga GKR lantaran harga GKR bagi pengusaha besar lebih murah ketimbang dengan harga yang diberikan pengusah kecil dalam hal ini UKM.

Haryadi mengungkapkan, perbedaan harga gula yang diterima UKM dengan industri besar merupakan hal yang wajar. Sebab, industri besar membutuhkan bahan baku gula dalam jumlah yang banyak sehingga wajar jika bisa mengaksesnya langsung ke produsen gula rafinasi dan mendapatkan harga yang murah.

"Kalau harganya bisa lebih murah bagi UKM rasanya secara alamiah sulit. Pasti yang kebutuhannya besar akan mendapatkan penawaran yang besar. Sama seperti beli Indomie di Alfamart Indomaret pasti harganya lebih mahal ketimbang langsung dari produsen mi-nya Indofood," kata Hariyadi mencontohkan.

Alasan berikutnya adalah soal transparansi peredaran gula rafinasi, diamana skema pembelian gula rafinasi yang sebelum telah berjalan antara produsen gula rafinasi dengan industri penggunanya justru sudah transparan. Sebab, pembeliannya dilakukan atas dasar business to business (B to B) dengan adanya kontrak.

Alasan yang terakhir adalah soal rembesan gula rafinasi ke pasaran, menurut Haryadi tidak mungkin industri besar pengguna menjual gula rafinasinya ke pasaran. Sebab, gula rafinasi yang menjadi bahan baku untuk makanan atau minuman olahan memiliki nilai tambah yang lebih besar ketimbang menjual rafinasi mentah-mentah.

Diapun menyarankan kepada pemerintah untuk lebih memperbaiki tatanan sistem pergulaan nasional, ketimbang membuat kebijakan yang justru mendistorsi pengusaha dalam negeri.

"Lebih baik pemerintah fokus untuk membuat harga gula di dalam negeri lebih kompetitif ketimbang memperpanjang rantai distribusi gula rafinasi dengan menerapkan kebijakan lelang," ujarnya. [uji]

Komentar

 
x