Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 24 Mei 2018 | 11:23 WIB
 

Lelang Gula Rafinasi

Kebijakan Enggar Malah Bikin IKM Gigit Jari

Oleh : M Fadil Djailani | Rabu, 27 September 2017 | 14:26 WIB
Kebijakan Enggar Malah Bikin IKM Gigit Jari
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Alih-alih sejahterakan Industri Kecil Menengah (IKM), Kebijakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita terkait lelang Gula Krsital Rafinasi (GKR) malah bikin IKM gigit jari.

Hal tersebut dikatakan Koordinator Forum Lintas Asosiasi Industri Pengguna Gula Rafinasi Dwiatmoko Setiono dalam sebuah diskusi bertajuk "Lelang Gula Kristal Rafinasi, solusi atau Distorsi" di Gedung Permata Kuningan, Jakarta, Rabu (27/9/2017).

"Kalau dari niat luar biasa banget menolong dari pada IKM untuk bisa dapatkan harga wajar bisa bersaing, luar biasa banget, apakah dengan menolong itu kita tolak, niatnya kita dukung, tapi dengan lelang ini apakah benar menolong, justru ini jadi distorsi," kata Dwiatmoko.

Hal yang paling memberatkan kata Dwiatmoko dalam kebijakan lelang ini adalah persyaratan minimal lelang GKR yang mencapai 100 ton. Padahal kata dia kebutuhan GKR bagi para IKM di bawah itu.

Selain itu, kata dia batasan 100 ton akan menambah biaya yang harus dikeluarkan para pelaku IKM. Pasalnya pabrik gula rafinasi di Indonesia ada 11. Posisinya pun tidak merata di tiap wilayah, antara lain, di Medan, Lampung, Cilegon, Makasar, dan Cilacap. Padahal, UKM tersebar di seluruh wilayah Indonesia, yang seluruhnya juga membutuhkan gula rafinasi.

"Kenapa distorsi karena IKM ada di seluruh Indonesia, terdiri dari 700 kota kabupaten, dengan pabrik 11 ini apakah bisa layani IKM di 700 kota kabupaten ini?," kata dia.

Dengan demikian, Dwiatmoko bagi IKM yang jauh dari pabrik justru akan terbebani dengan tambahan ongkos angkut 100 ton gula rafinasi. "Ini menurut saya distorsi, hanya di lingkungan pabrik yang menikmati, yg uji coba lelang, saya dengar Rp9.500 gambarannya, ya kalau di Banten oke, krn biasanya IKM dapat gula harga Rp12.000-Rp13.000, kalau di Samarinda, berapa ongkos kirim ke sana, apa jadi murah, itu sebenarnya, apa lebih murah? itulah distorsi," katanya.

Seperti diketahui, pemerintah kembali menunda skema lelang gula kristal rafinasi yang rencananya di jadwalkan bergulir mulai Oktober 2017.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Bachrul Chairi mengungkapkan saat ini pemerintah masih berupaya menambah peserta dari kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Oleh karena itu, pemerinta memundurkan waktu pelaksanaan skema lelang menjadi 8 Januari 2018. "Karena tujuan pelaksanaan lelang GKR adalah untuk menjamin pasokan bagi para pelaku usaha berskala mikro dan kecil, maka jumlah peserta lelang dari kelompok usaha tersebut perlu diupayakan untuk ditambah," ujarnya.

Bachrul menyatakan bahwa pemerintah akan mengintensifkan sosialisasi kepada para pelaku UMKM dan koperasi di seluruh wilayah Indonesia. "Hingga saat ini jumlah peserta lelang yang mewakili IKM, UKM, kelompok UMKM, dan koperasi baru terdaftar 310 peserta dari 18 provinsi, sementara untuk industri makanan dan minuman sudah terdaftar 150 peserta," paparnya.

Keputusan penundaan bukan yang pertama dilakukan oleh pemerintah dalam pelaksanaan skema lelang gula kristal rafinasi.

Awalnya, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 16/M-DAG/PER/3/2017 tentang Perdagangan Gula Kristal Rafinasi melalui Pasar Lelang Komoditas sebelumnya telah menetapkan waktu bergulirnya lelang adalah 15 Juni 2017.

Namun, akibat adanya masukan dari sejumlah pihak serta keterbatasan waktu sosialisasi maka akhirnya dilakukan penundaan hingga awal tahun depan. [uji]

Komentar

 
x