Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 23 Oktober 2018 | 09:19 WIB

Pengamat: Harga BBM Stabil, BUMN Jadi Korban

Oleh : Uji Sukma Medianti | Rabu, 22 November 2017 | 18:54 WIB

Berita Terkait

Pengamat: Harga BBM Stabil, BUMN Jadi Korban
Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pengamat energi menilai pemerintah mengorbankan BUMN karena tidak menaikkan harga BBM bersubsidi.

Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara, menyayangkan adanya inkonsistensi antara kebijakan dan pelaksanaan aturan yang dibuat oleh pemerintah sendiri dalam tata kelola migas.

Marwan mencontohkan dalam formula penetapan harga BBM, pemerintah mengaturnya melalui Perpres 191/2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM.

Sesuai peraturan tersebut, kata Marwan, variabel utama yang berubah adalah harga minyak dunia dan nilai tukar. Selain itu, juga terdapat komponen biaya lain, seperti pengangkutan, biaya pengilangan, PBBKB, dan juga marjin untuk badan usaha dan juga marjin untuk SPBU.

Nyatanya, kata Marwan, saat ini terdapat beberapa komponen biaya yang tidak konsisten diterapkan. Misalnya marjin dan juga biaya pengangkutan. Belum lagi, terkait kenaikan harga minyak dunia dan juga nilai tukar rupiah.

"Saya bukan mendorong harga BBM naik. Saya bicara tentang konsistensi. Kalau tidak mau harga naik, negara harus bertanggung jawab melalui subsidi. Jangan mengorbankan BUMN. Karena BUMN kita perlukan untuk menjamin ketahanan energi," ujar Marwan kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (22/11/2017).

Tidak hanya harga BBM yang menyebabkan Pertamina merugi. Marwan juga menyebut, adanya penugasan yang tidak dibarengi dengan pemberikan subsidi seperti BBM Satu Harga.

Untuk itu, pemerintah memang sebaiknya menjadikan program ini secara resmi, misalnya melalui Surat Keputusan Presiden Joko Widodo. Dengan adanya mekanisme legal semacam itu, program tersebut bisa dianggarkan melalui APBN. "Namun kalau hanya melalui perintah lisan, Pertamina bisa menjadi korban lagi," jelas Marwan. [hid]

Komentar

x