Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 20 Februari 2018 | 09:02 WIB
 

CIPS: Lelang Gula Rafinasi Rawan Duit Perantara

Oleh : - | Kamis, 14 Desember 2017 | 15:54 WIB
CIPS: Lelang Gula Rafinasi Rawan Duit Perantara
Gula Rafinasi - (Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Lembaga Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, distribusi gula rafinasi melalui lelang, tidak efektif. Lebih bagus dilakukan melalui mekanisme pasar.

"Proses lelang gula rafinasi yang rencananya akan dilakukan pemerintah dinilai tidak efektif karena membuat para pelaku industri harus mengeluarkan lebih banyak biaya," kata Kepala Penelitian CIPS, Hizkia Respatiadi di Jakarta, Kamis (14/12/2017).

Menurut Hizkia, biaya tambahan semacam 'duit upeti' ini, muncul akibat adanya proses lelang. Alhasil, para pelaku industri menjadi semakin terbebani. Meski harga gula rafinasi lebih murah ketimbang gula konsumsi, munculnya biaya upeti itu membuat harga gula rafinasi menyamai harga gula konsumsi.

"Salah satu contoh, biaya tersembunyi yang muncul adalah biaya perantara. Nilainya Rp85 sampai dengan Rp100 per kilogram," papar Hizkia.

Selain biaya tersembunyi, menurut dia, proses lelang terkesan sarat muatan politis karena proses ini hanya bisa diikuti oleh perusahaan yang sudah terdaftar resmi.

Hal ini, lanjut Hizkia, rentan memunculkan praktek kolusi dan hubungan nepotisme yang dikhawatirkan akan berimbas pada validitas proses dan hasil dari lelang gula rafinasi tersebut.

"Biaya tambahan yang muncul akibat adanya proses lelang dikhawatirkan membuat proses lelang ini menjadi tidak efektif. Harga beli gula rafinasi per kilogram akhirnya akan sama saja dengan harga yang didapat pelaku industri dengan membeli langsung ke produsen atau importir," terang Hizkia.

Ia juga mengemukakan, persyaratan pembeli sebanyak minimal 1 ton, dinilai memberatkan pelaku usaha berskala kecil, khususnya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Hal tersebut, lanjutnya, karena kebutuhan UMKM diprediksi tidak akan mencapai 1 ton. Tidak hanya UMKM, industri besar dan menengah juga akan menerima dampak dari proses lelang ini.

Sebelum menggunakan sistem lelang, para pelaku industri membeli gula langsung ke produsen dengan menggunakan sistem kontrak. Hizkia menjelaskan sudah banyak para pelaku industri yang mengikat kontrak pembelian gula rafinasi untuk jangka panjang.

"Kementerian Perdagangan (Kemendag) beralasan mereka memberlakukan sistem lelang karena ingin memfasilitasi UMKM agar bisa membeli gula rafinasi langsung dari produsen. Namun persyaratan yang ditetapkan nyatanya memberatkan para pelaku industri," ucapnya.

Kemendag awalnya berencana untuk menetapkan mekanisme ini mulai 1 Oktober 2017. Namun belakangan diputuskan proses lelang baru akan dimulai pada Januari 2018. Kemendag menunjuk PT Pasar Komoditas Jakarta (PKJ) sebagai penyelenggara pasar lelang gula kristal rafinasi.

Sebelumnya, Anggota Komisi VI DPR RI, Abdul Wachid mendesak pemerintah untuk mengevaluasi kuota izin impor raw sugar. Aparat penegak hukum juga harus lebih serius dalam mengusut dan menindak pelaku perembesan. [tar]

Komentar

 
Embed Widget

x