Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 16 Agustus 2018 | 23:11 WIB

Lelang Gula Rafinasi Munculkan Modus BPPC Baru

Oleh : Uji Sukma Medianti | Selasa, 19 Desember 2017 | 17:53 WIB
Lelang Gula Rafinasi Munculkan Modus BPPC Baru
Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) khawatir adanya Permendag Nomor 16 Tahun 2017 tentang Lelang Komoditas Pasar Gula Kristal Rafinasi (GKR) memunculkan modus lahirnya Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkih (BPPC) yang pernah terjadi beberapa dekade lalu.

Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani menuturkan, pada waktu itu, terdapat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1992 tentang Tata Niaga Cengkih Hasil Produksi Dalam Negeri.

Selanjutnya, beleid itu ditindaklanjuti dengan adanya Peraturan Menperindag Nomor 114 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Tata Niaga Cengkih. "Pada kurun waktu itu, tata niaga cengkih tidak menunjukkan perbaikan yang berarti dan malah menimbulkan dampak pidana," terangnya di Gedung Permata Kuningan, Jakarta, Selasa (19/12/2017).

Begitupun dengan beleid tentang lelang gula rafinasi, Hariyadi mengaku ada kekhawatiran dari pihak-pihak pelaku industri makanan dan minuman bahwa BPPC akan terulang.

Pasalnya, dengan skema lelang yang ditetapkan harga batas atas dan harga batas bawahnya ini, bisa memunculkan monopoli institusi swasta tunggal. "Sedianya GKR dimulai pada Juni 2017 lalu tetapi mengalami penolakan dari pemangku kepentingan industri besar dan kecil di sektor makanan minuman sehingga Kemendag menunda pelaksanaannya jadi Januari 2018," terangnya.

Hariyadi menambahkan, di dalam tubuh pemerintahan pun terjadi friksi pendapat mengenai urgensi penerapan pasar lelang ini. "Respon Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Darmin Nasution) menegaskan agar dilakukan peninjauan kembali kebijakan tersebut untuk mendengar aspirasi yang lebih luas dari masyarakat terutama industri pengguna gula rafinasi," jelasnya. [hid]

Komentar

x