Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 16 Agustus 2018 | 23:10 WIB

Nasabah Kecil Lebih Patuh Bayar Cicilan KUR

Oleh : Mohammad Fadil Djailani | Kamis, 4 Januari 2018 | 15:59 WIB
Nasabah Kecil Lebih Patuh Bayar Cicilan KUR
Deputi Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah mencatat realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) selama tahun lalu lebih baik dibandingkan tahun 2016.

Hingga akhir November 2017, realisasi penyaluran KUR tercatat sebesar Rp95,6 triliun atau mencapai 89,6% dari target sebesar Rp106,6 triliun.

Dari sisi kredit macet atau Non Ferforming Loan (NPL) pada 2017 juga terbilang rendah dari 2016, angka kredit macetnya dikisaran 0,22% dari tahun sebelumnya yang mencapai 0,37%.

Deputi Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir mengatakan rendahnya angka kredit macet ini juga didukung dengan kesadaran debitur akan tanggung jawabnya.

"Ada yang menarik, bahwa ternyata pengusaha kecil itu lebih patuh ketimbang pengusaha yang besar-besar, mereka (pengusaha kecil) kalau tidak bayar tagihan ada rasa malunya," kata Iskandar saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Kamis (4/1/2017).

Dia lantas mencontohkan di daerah Jawa Tengah ada sekelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di mana tingkat kredit macet kelompok tersebut 0% dalam hal membayar cicilan pinjaman KUR.

"Jadi seperti ada rasa malu kalau tidak membayar cicilan, bahkan ditegor sama ketua kelompok UMKM-nya," katanya.

Iskandar bilang berdasarkan sektornya, pemerintah mencatat penyaluran KUR untuk sektor produktif tahun lalu meningkat. Realisasi sektor produktif ini mencapai 44% dibandingkan tahun 2016 yang hanya 33%. Adapun andil KUR untuk sektor pertanian pada tahun lalu mencapai 24%.

Selanjutnya, andil KUR untuk sektor perikanan pada 2017 mencapai 1,6%, naik dibandingkan tahun 2016 yang hanya 1,2%. Sektor industri mencapai 5,9% naik dari tahun sebelumnya sebesar 4,1%. Adapun sektor jasa pengolahan mencapai 12,5%, naik dari tahun sebelumnya yang hanya 11%.

Sementara andil penyaluran KUR untuk sektor perdagangan mengalami penurunan, dari 66% menjadi 56,3%. Iskandar mengatakan, KUR untuk perdagangan ini dialihkan ke sektor yang lebih produktif.

"Ya kalau perdagangan kan yang diperdagangkan itu-itu saja. Kalau demand naik, suplainya enggak ada, jadi memicu inflasi," ujarnya. [tar]

Komentar

x