Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 16 Agustus 2018 | 19:27 WIB

Tahun Keempat, Ekonomi Jokowi Dibayangi Stagnasi

Oleh : Herdi Sahrassad | Jumat, 5 Januari 2018 | 05:01 WIB
Tahun Keempat, Ekonomi Jokowi Dibayangi Stagnasi
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Tiga tahun berturut-turut sejak 2015, pertumbuhan ekonomi macet di level 5%. Memprihatinkan. Bahkan, Wapres Jusuf Kalla mengeluhkan rendahnya pertumbuhan ini.

Meski tahun ini memasuki tahun politik lantaran ada pilkada serentak, tak ada jaminan bahwa pertumbuhan ekonomi bakal melesat. Tiga tahun pertumbuhan rendah menjadi preseden negatif, sekaligus menunjukkan rendahnya performance tim ekonomi yang dibangun Presiden Joko Widodo.

Harus diakui, hingga saat ini, tim ekonomi belum mampu memperlihatkan hasil kerja yang maksimal dan optimal dalam menggerakkan sektor riil.

Tim ekonomi yang lebih kental rasa neoliberal, baru bisa membanggakan geliat di pasar modal. Namun, sektor riil masih mengalami stagnasi. Ditandai dengan rendahnya pertumbuhan. Celakanya lagi, pertumbuhannya tak berkualitas pula.

Di tiga tahun kinerja tim ekonomi Jokowi---terutama Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan, hanya mampu memompa pertumbuhan ekonomi sebesar 5%.

Kondisi ini, boleh dikata, sama sekali tidak bergerak. Dan, amat jauh dari perubahan sebagaimana yang diharapkan bisa sebesar 6,5%-7% per tahun.

Ekonom Institute Development of Economics and Finance (Indef), menilai, saat ini, kondisi ekonomi di tanah air, masih stagnan alias tak bergerak.

Padahal, pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK) sudah memasuki usia tiga tahun.

Peneliti Senior Indef Didik J Rachbini menyebutkan, hal ini tercermin dari nilai ekspor Indonesia yang justru merosot tajam. Pada 2013, realisasi ekspor Indonesia mampu tembus US$200 miliar. Saat ini, justru hanya sekitar US$120 miliar. Terjadi penurunan.

Selain itu, konsumsi dan daya beli masyarakat yang sebelumnya menjadi andalan pemerintah, justru anjlok parah.

Bahkan, sejumlah peritel melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya karena sektor ritel yang tengah lesu saat ini.
Satu lagi, tingkat kesenjangan di tanah air, masih sangat tinggi.
Menurut Didik, Indonesia masuk tiga besar negara yang tingkat ketimpangan dan kesenjangannya paling tinggi.

Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli, mengaku sudah jauh-jauh hari menduga, tim ekonomi Kabinet Kerja tidak akan mampu mencapai target. Padahal, Presiden Jokowi sangat mendambakan terjadinya pertumbuhan ekonomi 5,4%. "Saya tidak aneh. Dari awal, memang ini akan terjadi. Kenapa? Karena yang dilakukan adalah pengetatan, atau austerity," ujar Rizal.

Dirinya mengutip pandangan Confusius (seorang guru atau orang bijak yang terkenal dan juga filsuf sosial Tiongkok), yakni: "Kalau target tidak tercapai, jangan ubah targetnya. Tapi ubah cara untuk mencapainya."

Dan ini, lanjut Rizal, mirip omongan Einstein: "Jangan bermimpi bisa mendapatkan hasil berbeda dengan menggunakan cara-cara yang sama."

Pandang Confusius dan Einstein sengaja Rizal sampaikan. Dirasa penting untuk menjelaskan bahwa pengetatan anggaran yang ditempuh Menteri Keuangan Sri Mulyani, terbukti puluhan kali gagal di Amerika Latin.

Para analis melihat, jika paket pengetatan ini dipaksakan, dengan gaya kebijakan ekonomi makro yang super-konservatif pada 2018 hingga 2019, maka perekonomian hanya akan bergerak di angka 5%.

Padahal, menurut Rizal, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa dikerek hingga 6,5%. Caranya bukan dengan austerity, namun growth story. Artinya, cara-cara, taktik dan strategi untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai.

Masalahnya, kalau tim ekonomi masih rasa neolib, menjadi agak sulit. Kalau sudah begitu, bagaimana dengan nasib rakyat? Nampaknya perombakan tim ekonomi Kabinet Kerja menjadi pilihan yang obyektif, rasional dan menjanjikan ketimbang ekonomi terus terjerembab ke dalam keterpurukan. [ipe]

Komentar

x