Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 22 Februari 2018 | 05:42 WIB
Hightlight News

BI Jatim: Inflasi Nataru 2018 Bukan karena Beras

Oleh : - | Rabu, 10 Januari 2018 | 14:38 WIB
BI Jatim: Inflasi Nataru 2018 Bukan karena Beras
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Surabaya - Inflasi di Jawa Timur saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2018, bukan dipicu mahalnya harga beras. Namun ada faktor pendorong lain.

Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jatim, Difi Ahmad Johansyah kepada wartawan di Surabaya, Nawa Timur, Rabu (10/1/2018). "Kalau liburan seperti kemarin itu memang sulit mengendalikan. Tiket transportasi naik, semua orang ingin berlibur. Jadi, bukan semata-mata karena kenaikan harga beras," kata Difi.

Mantan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX Sumatra Utara dan Aceh itu, mengatakan, keberadaan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) berperan vital dalam menjaga inflasi. "Khususnya  Bulog yang terus bergerak melakukan operasi pasar, sehingga bisa mengendalikan inflasi dalam beberapa hari terakhir," papar Difi yang dekat dengan wartawan ini.

Kepala Divre Bulog Jatim, Muhammad Hasyim mengatakan, operasi pasar akan terus melakukan hingga akhir Maret 2018, sesuai perintah Kementerian Perdagangan untuk aktif menggelar operasi pasar.

Sebab, diakuinya masih ditemukan harga beras yang melebihi harga eceran tertinggi (HET), khususnya beras medium yakni Rp9.450 per kilogram, sehingga untuk operasi pasar dijual dengan harga Rp9.350 atau Rp100 lebih murah.

"Tujuannya supaya masyarakat bisa menjangkau dan membeli harga beras medium yang kualitas lebih bagus, dan kami akan menggelar operasi pasar serentak di seluruh pasar di kabupaten/kota di Jatim," katanya.

Sebelumnya, sesuai catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim komoditas beras menjadi pendorong inflasi wilayah setempat pada Desember 2017, sehingga wilayah setempat mengalami inflasi 0,71%.

Selain beras, komoditas utama pendorong inflasi lainnya adalah telur ayam ras, dan daging ayam ras, dengan catatan inflasi tertinggi ada di Kota Surabaya mencapai 0,85%, sedangkan yang terendah di Kota Kediri dan Sumenep sebesar 0,43%. [tar]

0 Komentar

Kirim Komentar


Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

Embed Widget
x