Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 25 Mei 2018 | 20:37 WIB
 

Ekonom Prediksi BI Rate Tak Akan Berubah

Oleh : M Fadil Djailani | Kamis, 18 Januari 2018 | 13:05 WIB
Ekonom Prediksi BI Rate Tak Akan Berubah
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira memprediksi bank sentral akan tetap mempertahannkan suku bunga untuk sebulan ke depan.

"BI diprediksi akan tetap mempertahankan 7 days repo di 4,25%," kata Bhima kepada INILAHCOM, Kamis (18/1/2018).

Bank Indonesia (BI) telah melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) sejak kemarin 17 Januari. Hari ini, BI akan mengumumkan hasil dari RDG pertama di tahun 2018 tersebut, salah satunya adalah mengenai suku bunga acuan atau 7 Days Reverse Repo Rate (7-Days Repo Rate).

Sebelumnya, pada RDG akhir tahun kemarin BI pada 13-14 Desember 2017 memutuskan untuk mempertahankan BI 7 Days Repo Rate tetap sebesar 4,25%. Apakah kali ini BI akan menaikan/menurunkan suku bunganya atau mempertahankannya?

Bhima beralasan, faktor yang jadi pertimbangan BI mempertahankan sukubunganya lantaran inflasi bulan Januari diperkirakan relatif tinggi dikisaran 0,6% secara bulanan. Kenaikan harga pangan khususnya beras membuat proyeksi inflasi tahun 2018 bisa diatas target pemerintah 3,5%.

"Kedua, penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lambat meskipun dalam 1 tahun terakhir BI memangkas bunga acuan sebesar 200 basis poin (bps). Melihat perkembangan tersebut nampaknya BI akan menggunakan instrumen selain turunkan bunga acuan," ujaranya.

Faktor ketiga lanjut Bhima adalah tekanan eksternal masih cukup besar khususnya penyesuaian Fed rate yang diproyeksi naik hingga 4 kali di 2018. Instabilitas geopolitik di timur tengah dan tren harga minyak yang bisa menembus US$80 per barel juga berpengaruh pada keputusan BI.

"Jadi sepanjang 2018 outlook kebijakan moneter BI akan lebih pro stabilitas dibandingkan dorong pertumbuhan kredit bank," katanya.

Di sisi yang lain masalah lambatnya penurunan bunga kredit disebabkan oleh faktor yang sifatnya struktural. Ini akarnya karena persaingan bank di Indonesia tidak sehat.

"Ada 117 bank yang saling berebut dana, ketika bunga deposito turun tapi bank lainnya bertahan dikhawatirkan akan ada perpindahan simpanan ke bank yang menawarkan bunga lebih tinggi. Kemudian beban operasional bank cukup tinggi dengan rasio BOPO dikisaran 80%. Untuk tekan bunga kredit otomatis bank harus lebih efisien," katanya.

Komentar

 
x