Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 23 Oktober 2018 | 09:22 WIB

Ada Apa SP Garuda Minta Perombakan Direksi?

Jumat, 26 Januari 2018 | 21:30 WIB

Berita Terkait

Ada Apa SP Garuda Minta Perombakan Direksi?
Pengamat Transportasi, Azas Tigor Nainggolan - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pengamat Transportasi, Azas Tigor Nainggolan mengkritisi aksi Serikat Pekerja PT Garuda Indonesia Bersatu yang mendesak pergantian direksi.

Azas mengatakan, aksi SP Garuda Bersatu yang terdiri dari Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia dan Asosiasi Pilot Garuda (APG) meminta perombakan direksi, terbilang ganjil.

''Terkait keinginan restrukturisasi direksi itu adalah menjadi kewenangan pemegang saham dalam hal ini pemerintah, bukan ranahnya serikat karyawan dan APG. Pemegang saham tentu memiliki penilaian sendiri terkait kinerja direksi,'' ujar Azas kepada wartawan di Jakarta, Jumat (26/1/2018).

Azas mengatakan, jajaran direksi Garuda, saat ini, bekerja belum genap setahun. Tentunya, ada rencana strategi jangka pendek dan panjang yang akan dan sudah dijalankan jajaran direksi.

"Semua ini kan ada indikatornya, dapat diukur dan memiliki target yang jelas. Upaya memperbaiki Garuda tidak semudah sekadar membalikan telapak tangan," kata Azas.

Dengan menilai indikator kinerja direksi, menurutnya, dapat diketahui dengan jelas apakah ada upaya perbaikan, pembenahan dalam mengembangkan Garuda. Terpenting itu adalah apakah direksi punya kapasitas dan kemampuan dalam mengembangkan perusahaan.

"Jadi indikator bukan hanya menuntut direksi harus dari internal Garuda semata. Kalau mendesak-desak dari internal, justru memunculkan dugaan hanya bagian perebutan jabatan semata?'' tegas Azas.

Banyak kalangan menilai, kinerja direksi Garuda di bawah komando Direktur Utama Pahala N Mansury sejak April 2017, cenderung turun. Hal itu dikaitkan dengan latar belakang Pahala yang sebelumnya menjabat direktur di Bank Mandiri. Terkait penunjukan ini, Pahala ditugasi membenahi keuangan Garuda.

Meskipun masih mencatatkan kerugian, namun, performa keuangan maskapai penerbangan plat merah ini makin membaik. Direksi belum genap setahun saja, pada kuartal III-2017, berhasil membukukan laba bersih US$61,9 juta. Atau naik 216,1% ketimbang periode yang sama di tahun sebelumnya.
Artinya, kinerja keuangan mengalami perbaikan bukan penurunan. Garuda juga telah melakukan renegosiasi kontrak pesawat bersama pihak manufaktur atau lessor hingga harga sewa turun 25%.

Pada Mei 2017, atau satu bulan direksi dilantik, serikat pekerja Garuda sempat mengancam pelambatan (slow down) dan mogok operasi. Aksi mereka dikecam berbagai kalangan karena hanya berpotensi merugikan konsumen Garuda.

Padahal, pilot Garuda menerima gaji paling besar ketimbang maskapai lain yang beroperasi di Indonesia. Semisal, gaji pilot yunior Garuda sebesar Rp60 juta dan pilot senior berkisar Rp100 juta hingga Rp150 juta per bulan.

Gaji ini belum termasuk fasilitas berlimpah lainya seperti asuransi personal, tunjangan kesehatan, fasilitas antar jemput yang belum tentu ada di maskapai penerbangan lainnya. [tar]

Komentar

x