Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 25 Mei 2018 | 20:27 WIB
 

Apkasindo Usul Boikot Produk Eropa Karena Sawit

Oleh : - | Sabtu, 27 Januari 2018 | 03:29 WIB
Apkasindo Usul Boikot Produk Eropa Karena Sawit
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pihak Eropa terkesan secara sistematis ingin mematikan petani sawit Indonesia yang berjumlah 5,3 juta jiwa. Ini jelas perlu disikapi.

Hal itu diungkapkan Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) dalam diskusi bertema "Sawit Indonesia Dalam Ancaman" di Jakarta, Jumat (26/1/2018).

Pernyataan keras ini menanggapi upaya Parlemen Eropa dalam voting pada 18 Januari yang menyetujui proposal UU energi terbarukan. Di mana, beleid tersebut melarang penggunaan minyak sawit untuk biodiesel mulai 2021.

Proposal tersebut menunggu persetujuan eksekutif Komisi Eropa dan Pemerintah negara-negara anggota untuk bisa diaplikasikan.

Arsjad berusaha memperjuangkan nasib petani sawit Indonesia, dengan mendatangi Duta Besar Uni Eropa, meminta agar proposal tersebut ditolak. "Pelarangan minyak sawit untuk biodiesel di Eropa sama dengan kejahatan sistematis untuk membunuh 5,3 juta petani Indonesia yang hidupnya tergantung dari kelapa sawit. Sehingga kami meminta Uni Eropa untuk menghentikan upaya pelarangan penggunaan minyak sawit untuk biodiesel serta menghimbau masyarakat Indonesia dan mendorong pemerintah untuk memboikot produk-produk Eropa," kata Arsjad.

Proposal larangan minyak sawit sebagai biodiesel di Eropa, lanjutnya, akan memukul Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Otomatis, petani sawit Indonesia yang berjumlah jutaan itu, terkena dampak yang cukup serius.

Upaya Parlemen Eropa melarang penggunaan biodisel berbasis minyak kelapa sawit ini, lagi-lagi berdalih isu sustainability dan deforestasi di perkebunan sawit di Indonesia.

Padahal, menurut dia, kenyataannya Pemerintah Indonesia bersama Apkasindo sudah memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi di masa lalu. Sehingga tidak pantas dihukum atas isu-isu yang tidak bertanggungjawab.

Kelapa sawit yang merupakan komoditi utama perkebunan telah menjadi motor pengentasan kemiskinan dan pendorong pembangunan pedesaan.

Kata Arsjad, prestasi pemerintah Indonesia bersama dengan petani sawit dalam mencegah kebakaran hutan dan mengedepankan tata kelola lingkungan hidup yang berkelanjutan sudah semestinya dihargai dan dipercayai oleh dunia.

Dia menyatakan, pelatihan good agricultural practices yang mendorong praktik berkelanjutan, terbukti mampu meningkatkan produktivitas. Saat ini telah dilakukan secara massif.

Dengan peningkatan produktivitas ini, tambahnya, para petani cenderung menghindari perluasan lahan sawit. Padahal dunia juga mengakui bahwa kelapa sawit merupakan tanaman paling layak memenuhi permintaan global minyak nabati tanpa memerlukan lahan besar.

Untuk menghasilkan 1 ton minyak nabati, kelapa sawit membutuhkan areal seperempat (0,25 hektar) dibandingkan dengan kedelai maupun rapeseed yang membutuhkan areal yang lebih luas 1-1,5 hektar. "Maka, rencana pembatasan sawit sebagai biodiesel oleh Parlemen Uni Eropa adalah kejahatan serius bagi petani kelapa sawit Indonesia," katanya.

Pemerintah Indonesia juga sedang dalam proses perbaikan terus menerus dalam hal manajemen perkebunan sawit yang semakin baik. Saat ini sudah terdapat ISPO (Indonesian Sustainability Palm Oil) yang menjadi kewajiban untuk dipatuhi oleh seluruh pemangku kepentingan kelapa sawit.

ISPO ini juga menjadi indikator penting bagi pemerintah Indonesia untuk memonitor keberimbangan factor lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat petani.

Arsjad juga menekankan bahwa tudingan deforestasi di sektor perkebunan sawit itu juga tidak menghargai pemerintah Indonesia, karena perkebunan sawit kebanyakan ditanam di areal penggunan lain yang sudah ditetapkan oleh pemerintah atau lahan-lahan terlatar. Kelapa sawit bukan ditanam di areal konservasi. "Mengapa Eropa tidak peduli dengan fakta ini, Eropa lebih suka menuding sawit penyebab deforetasi tanpa melihat kenyataan yang ada di lapangan," ujarnya. [tar]

Komentar

 
x