Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 18 Oktober 2018 | 17:39 WIB

SKK Migas Rayu Petronas Garap Sektor Hilir

Minggu, 28 Januari 2018 | 19:11 WIB

Berita Terkait

SKK Migas Rayu Petronas Garap Sektor Hilir
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - SKK Migas mengharap Petronas untuk terus meningkatkan investasi migas di Indonesia. Peran perusahaan asal Malaysia bisa menggarap sektor hilir seperti petrokimia.

Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Sukandar menilai Petronas telah memiliki kapabilitas dan pengalaman panjang di sektor petrokimia dan secara masif mengembangkan industri tersebut di dalam negerinya, baik untuk memenuhi kebutuhan manufaktur domestik maupun keperluan ekspor, termasuk tujuan ke Indonesia.

"Bila Petronas mau masuk, kami sangat welcome," ujar Sukandar, usai melihat fasilitas industri migas terintegrasi di Kertih, Terengganu, Malaysia, Kamis (25/1) lalu dalam kunjungan kerja ke fasilitas industri minyak dan gas (migas) Petronas di Malaysia, pada 24-26 Januari 2018. Sukandar yang baru diangkat menjadi Wakil Kepala SKK Migas pada Mei 2017

Kompleks industri migas terintegrasi yang dibangun di atas lahan seluas 4.000 hektare itu memiliki fasilitas produksi petrokimia. Komplek tersebut mulai dari hulu hingga ke hilir, yakni mulai dari produksi dan terminal gas dengan kapasitas 700 mmscfd (juta standar kaki kubik per day) sampai dengan produksi bahan kimia, seperti amonia, benzene, butanol, etiline, glicol, dan propilene.

Selain itu, infrastruktur lainnya juga dibangun lengkap di kawaasan itu, termasuk pelabuhan dan bandara Kertih, bahkan juga fasilitas untuk pemenuhan kebutuhan air bersih.

Namun itu hanya satu dari tiga kompleks petrokimia yang dibangun oleh Petronas. Selain Kertih, ada juga fasilitas sejenis, yakni di Gebeng, Pahang, untuk produksi antara lain metil tertiary butil eter (MTBE), n-butane, dan propilene.

Keseriusan Petronas menjadi pemain utama produsen petrokimia di Asia Tenggara juga terlihat dari pembangunan fasilitas yang tiga kali lebih besar dari Kertih di Pengerang, Johor. Pabrik petrokimia yang memproduksi polimer dan glicol itu direncanakan akan beroperasi pada triwulan pertama Tahun 2019.

CEO Petronas Chemical Derivatives Sdn Bhd dalam paparannya di hadapan sejumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang ikut dalam kunjungan kerja tiga hari itu menjelaskan pihaknya menargetkan perusahaannya mampu menjadi produsen kimia berbasis gas terbesar di kawasan Asia Tenggara, serta produsen metanol terbesar di kawasan Asia Pasifik dan menjadi empat besar di dunia.

Saat ini Petronas telah memiliki kapasitas total produksi petrokimia mencapai 12,7 juta ton per tahun yang dihasilkan dari 17 pabrik, baik milik sendiri (delapan pabrik), maupun patungan (lima pabrik) dan kerja sama (empat pabrik) dengan berbagai pihak.

Ajakan Investasi Melihat ambisi dan keseriusan Petronas untuk menjadi pemain utama di industri petrokimia itulah, Wakil Kepala SKK Migas Sukandar tidak membuang kesempatan untuk menawarkan investasi di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya sedang mengembangkan produksi hingga 1.100 mmscfd. Ia menawarkan investasi petrokimia terintegrasi itu di Kalimantan Timur yang potensi gasnya masih berlimpah.

Namun agaknya pihak Petronas masih ingin berkonsentrasi untuk mengembangkan bisnis di bagian hulu di Indonesia dan menjadikan Indonesia pasar produksi kimia BUMN Malaysia itu.

Setidaknya itu tersirat dari ungkapan Country Head of Petronas Carigali Indonesia, Mohamad Zaini Md Nor.

Ia menegaskan bahwa perusahaannya ingin fokus pada pertumbuhan bisnis upstream (hulu) di Indonesia.

Karena itu, ia lebih berharap Pemerintah Indonesia melalui SKK Migas memberi kesempatan Petronas untuk menggarap ladang migas yang bagus di Jawa.

Kalau bisa yang di Jawa, ujar Zaini, yang juga President PC Muriah Ltd, ketika Sukandar juga menawarkan untuk eksplorasi blok migas di Papua yang ditinggalkan ConocoPhillips.

Petronas kini masih menempati posisi ke-9 dari 10 besar KKKS yang memberi kontribusi utama lifting minyak di Indonesia.

Kekurangtertarikan Petronas untuk membangun kompleks petrokimia terintegrasi di Indonesia cukup beralasan mengingat sudah masuk era perdagangan bebas ASEAN.

Namun langkah dan mimpi memiliki industri petrokimia terintegrasi yang besar seperti milik Petronas itu tidak boleh terhenti, karena kita memiliki BUMN migas yang besar, yaitu Pertamina, yang mungkin bisa mewujudkannya, agar tiap tahun Indonesia tidak perlu impor bahan kimia miliaran dolar untuk bahan baku industri.

Apalagi awal berdiri tahun 1974 Petronas berguru pada Pertamina yang saat itu sudah menjadi perusahaan migas besar. Jangan sampai guru terlalu jauh tertinggal dari muridnya. [tar]

Komentar

x