Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 16 Agustus 2018 | 23:11 WIB

Tarif Setrum Siap-siap Naik Gegara Batubara

Oleh : - | Selasa, 30 Januari 2018 | 01:09 WIB
Tarif Setrum Siap-siap Naik Gegara Batubara
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan sinyal kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) nonsubsidi sesuai formulasi baru yang bakal disusun.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Andy Noorsaman Someng di Jakarta, Senin (29/1/2018), menjelaskan, formulasi baru akan disusun lagi jika memang ada faktor-faktor yang memengaruhi harga jual listrik.

Sebelumnya, Menteri ESDM Ignasius Jonan, mempertimbangkan skema baru. Yakni, memasukkan harga batubara acuan dalam penetapan tarif dasar listrik.

Pertimbangan ini didasari porsi penggunaan batubara untuk pembangkit listrik, masih menjadi tumpuan hingga 2026. "Ini akan dicoba untuk reformulasi lagi formula penetapan tarif listrik, bagaimana kalau dengan masuknya harga batubara," kata Jonan.

"Karena pembangkit kita itu 60 persen energi primernya batu bara. Jadi hingga 2026 masih dominan pakai batubara, karena harganya lebih kompetitif, namun pembangkitnya juga harus yang teknologinya lebih environment friendly," tambah Jonan.

Selama ini, harga minyak Indonesia masih menjadi faktor utama pengambilan keputusan Tarif Tenaga Listrik. Sementara, porsi penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar diesel semakin kecil. "Sekarang paling 4 persen. Nah targetnya kan kalau sampai 2026 tinggal 0,05 persen. Masak pakai ICP, kalau mau pake HBA, Harga Batubara Acuan," jelas Jonan.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional dari batubara hingga 2016, sebesar 29.880,23 MW dari total 59.656,30 MW. Sedangkan, pembangkit listrik diesel hanya sebesar 6.274,79 MW secara nasional.

Terkait kepastian skema baru tersebut, Jonan belum memutuskan dan masih mencoba bersikap realistis seiring dengan perkembangan pembangkit listrik. "Belum, ini mau dibahas. Kami berusaha coba realistis," tutup Jonan.

Sebagai informasi, perhitungan Tarif Tenaga Listrik masih menggunakan tiga komponen, terdiri dari harga minyak mentah Indonesia atau ICP, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan laju inflasi. [tar]

Komentar

x