Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 22 November 2018 | 02:10 WIB

BI Waspadai Risiko Kebijakan The Fed

Oleh : M Fadil Djailani | Selasa, 30 Januari 2018 | 16:02 WIB

Berita Terkait

BI Waspadai Risiko Kebijakan The Fed
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengaku mewaspadai risiko inflasi dari gejolak harga pangan (volatile food) karena kebijakan moneter Federal Reserve AS.

Untuk itu BI akan menjaga stabilitas inflasi yang tengah berada dalam tren penurunan. "Inflasi 2018 akan kami jaga pada kisaran 3,5% plus minus 1%. Kami akan konsisten menjaga pada kisaran sasaran itu, di tengah adanya risiko-risiko global yang terutama dari kebijakan The Fed," kata Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Firman Mochtar di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (30/1/2018).

Langkah untuk menjaga inflasi sesuai target 2018, menurut Firman, BI akan meningkatkan koordinasi dengan melalui Tim Pengendalian Inflasi bersama pemerintah pusat maupun daerah. "Bersama Tim Pengendalian Inflasi ini' kami akan mengawal laju inflasi volatile food di 2018 pada kisaran 4-5%," jelasnya.

Dia memperkirakan, laju inflasi pada tahun ini akan lebih besar didorong oleh komponen harga pangan bergerak seperti beras, cabai dan bawang merah, ketimbang komponen inflasi harga yang ditentukan pemerintah (administered price). "Ini paling penting sekali. Kalau inflasi ini bisa dijaga, maka akan berpengaruh ke komponen inflasi lainnya," kata Firman.

Firman meyakini, jika laju inflasi bisa terjaga di kisaran 3,5% plus minus 1%, maka pertumbuhan ekonomi 2018 bisa berada di kisaran 5,1-5,5%. "Karena, kami memperkirakan pada 2018 ini kurs rupiah juga akan bergerak stabil dan current account deficit bisa terjaga kurang dari 2%," ucapnya.

Namun demikian, jelas dia, upaya BI untuk menekan laju inflasi tetap mengkalkulasi sejumlah realisasi indikator makroekonomi domestik, sehingga pihaknyanya tidak akan secara serta-merta menekan inflasi ke bawah 3%. "Level 3% (3,6% di 2017) ini sudah mendekati inflasi di negara-negara regional," kata Firman. [hid]

Komentar

x