Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 September 2018 | 15:05 WIB

Ekspor Manufaktur Teratas Minyak Sawit Juara

Kamis, 1 Februari 2018 | 11:30 WIB

Berita Terkait

Ekspor Manufaktur Teratas Minyak Sawit Juara
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang 2017, industri pengolahan (manufaktur) mencatatkan nilai ekspor US$125 miliar. Kontribusi tertinggi hingga 76% dari total ekspor sebesar US$168,73 miliar.

"Salah satu faktor penting untuk memacu pertumbuhan industri, yaitu adanya akses kemudahan dalam memperluas pasar, baik di domestik maupun ekspor. Jika pasar optimal, produksi bisa maksimal," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Rabu (31/1/2018).

Kementerian Perindustrian mencatat, perolehan ekspor industri di 2017 sebesar US$125 miliar, atau setara Rp1.673 triliun. Atau meningkat jika dibanding tahun-tahun sebelumnya. Terjadi kenaikan 13,14% dibanding 2016 yang meraih US$110,50 miliar. Sementara itu, capaian ekspor tahun 2015 adalah US$108,60 miliar. "Angka ekspor industri terus meningkat dan diproyeksi akan menjadi US$143,22 miliar pada tahun 2019," ungkapnya.

Airlangga bilang, komoditas yang mendominasi lima besar ekspor industri pengolahan sepanjang 2017, yaitu minyak sawit berkontribusi tinggi terhadap ekspor industri makanan senilai Rp272 triliun. Diikuti produk pakaian jadi menyumbangkan Rp90 triliun.

Selanjutnya, produk industri karet, barang karet, serta barang dari karet dan plastik sebesar Rp66 triliun, produk industri barang kimia dan barang dari bahan kimia Rp59 triliun, serta produk industri logam Rp51 triliun. "Saat ini, negara tujuan ekspor utama kita antara lain adalah Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, India, dan Singapura," tuturnya.

Guna meningkatkan pengapalan produk industri ke luar negeri, menurut Airlangga, pemerintah terus berunding untuk menyepakati perjanjian kerja sama ekonomi yang komprehensif dengan beberapa negara tujuan ekspor, seperti Eropa, Amerika Serikat, dan Australia. "Selain investasi, peningkatan ekspor dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional," tegasnya.

Airlangga mengungkapkan, sejumlah negara masih menetapkan tarif bea masuk tinggi. Misalnya, Eropa dan AS yang mengenakan bea masuk ekspor untuk produk tekstil Indonesia sebesar 5%-20%. Sedangkan negara-negara di Asia Tenggara, seperti Vietnam, tanpa bea masuk alias nol persen.

"Kalau hambatan tersebut bisa dikurangi, pasti kinerja eskpor indusri tekstil dan alas kaki kita akan terus naik, tuturnya. Apalagi, industri produk tekstil nasional memiliki daya saing yang tinggi di pasar global karena telah terintegrasi dari hulu sampai hilir. Khusus industri shoes and apparel sport, kita sudah melewati Tiongkok. Bahkan, di Brasil, kita sudah menguasai pasar di sana hingga 80%," imbuhnya.

Oleh karenanya, kemenperin gencar meningkatkan kinerja industri padat karya berorientasi ekspor. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah mengusulkan sektor ini mendapatkan insentif fiskal berupa pemotongan pajak penghasilan yang digunakan untuk reinvestasi. [tar]

Komentar

x