Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 24 Mei 2018 | 17:15 WIB
 

BI: Tekanan Inflasi dari Volatile Food Menguat

Oleh : - | Jumat, 2 Februari 2018 | 11:12 WIB
BI: Tekanan Inflasi dari Volatile Food Menguat
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang Januari 2018, Bank Indonesia menemukan kuatnya tekanan inflasi dari kelompok pangan dengan harga bergejolak (volatile food) sebesar 2,58% (bulan ke bulan/mtm) di Januari 2018.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi volatile food di Januari selama empat tahun terakhir yang mencapai 1,63% (mtm). "Inflasi Januari 2018 dipengaruhi terutama oleh tarif barang yang diatur pemerintah (administered prices) yang deflasi, dan inflasi inti yang tetap terkendali, di tengah inflasi volatile food yang meningkat," kata Deputi Direktur Departemen Komunikasi BI, Junanto Herdiawan di Jakarta, Kamis (1/2/2018).

Inflasi volatile food pada Januari 2018 dari tahun ke tahun (yoy), kata dia, meningkat menjadi 2,62%. Tekanan harga pangan ini bersumber dari komoditas beras, daging ayam ras, ikan segar, cabai rawit, dan cabai merah, menurut pernyataan resmi Bank Indonesia di Jakarta, Senin, terkait inflasi Januari 2018.

Meskipun demikian, BI meyakini laju inflasi akan tetap berada pada sasaran di 2,5%-4,5% (yoy) pada 2018. Adapun kelompok administered prices mengalami deflasi seiring normalisasi tarif angkutan setelah musim liburan. Kelompok administered price mengalami deflasi sebesar 0,15% (mtm), atau secara tahunan 5,82% (yoy).

Inflasi inti secara tahunan tercatat melambat di Januari 2018 menjadi sebesar 2,69% (yoy), atau lebih rendah dibanding Desember yang sebesar 2,95% (yoy). Secara bulanan, inflasi inti tetap terjaga 0,31% (mtm), meningkat dibandingkan Desember 2017 yang sebesar 0,13% (mtm).

Dengan demikian, inflasi keseluruhan pada Januari 2018 mencapai 0,62% (mtm), atau secara tahunan mencapai 3,25% (yoy). "Koordinasi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat, terutama sebagai antisipasi risiko meningkatnya inflasi volatile food serta kemungkinan penyesuaian harga beberapa komoditas di kelompok `administered prices`," ujarnya. [tar]

Komentar

 
x