Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 24 Juni 2018 | 04:16 WIB
 

Impor Bali 2017 Turun, Pertanda Industri Sepi?

Oleh : - | Senin, 5 Februari 2018 | 08:50 WIB
Impor Bali 2017 Turun, Pertanda Industri Sepi?
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Adi Nugroho - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Denpasar - Sepanjang 2017, nilai impor mesin dan alat produksi Provinsi Bali senilai US$124,521 juta. Turun US$26,14 juta (17,35%) dari tahun sebelumnya sebesar US$150,66 juta.

"Berbagai jenis alat produksi itu mendatangkan dari mancanegara sebagai modal kerja dengan harapan mampu memberikan nilai ekonomis, menguntungkan bagi perekonomian, pembangunan dan tingkat kesejahteraan masyarakat setempat," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Adi Nugroho di Denpasar, Senin (5/2/2018).

Ia mengatakan, nilai impor tersebut sangat kecil dibandingkan perolehan devisa dari ekspor Bali yang mencapai US$536,57 juta selama 2017, atau meningkat US$31,50 juta (6,24%)dibanding 2016 tercatat US$505,06 juta.

Khusus impor Desember 2017, tercatat US$9,026 juta, menurun US$3,58 juta atau 28,40% dibanding bulan sebelumnya (November 2017) sebesar US$12,60 juta.

Adi menambahkan, nilai impor Desember 2017 dibandingkan dengan Desember 2016 mengalami penurunan US$1,18 juta atau 11,61%. Di mana, nilai impor Desember 2016 mencapai US$10,21 juta.

Komoditas yang didatangkan dari luar negeri itu meliputi produk lonceng, arloji dan sebagainya sebesar 21,11%; produk perhiasan (permata) 16,35%; produk perangkat optik 11,24%; produk barang-barang dari kulit 7,85%; serta produk minyak atseri, kosmetik wangi-wangian 5,37%.

Berbagai jenis produk impor tersebut, sebagian besar berasal dari Hong Kong (40,48%), Australia (13,17%), China (7,51%), Jerman (6,26%), dan Amerika Serikat (5,46%).

Impor berbagai jenis mata dagangan itu selain mesin-mesin dan barang produksi untuk diolah kembali menjadi aneka jenis komoditas dan cenderamata yang siap diekspor kembali ke pasaran luar negeri yang mampu memberikan nilai ekonomis jauh lebih besar.

"Hal itu dinilai sangat menguntungkan dan memberikan manfaat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Adi.[tar]

Komentar

 
x